banner ad

Bolehkah Banci Menjadi Imam Shalat ?

| 31 Desember 2011 | 0 Comments
  • Sharebar

Banci Menjadi Imam

Bolehkah banci menjadi imam dalam sholat yang ma’mumnya perempuan? Ustad sekalian sama dalilnya.

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Syarat menjadi imam shalat harus laki-laki, kalau jamaahnya laki-laki atau campuran antara laki-laki dan perempuan. Sebaliknya, dibolehkan imam shalat perempuan manakala jamaahnya hanya perempuan saja, tidak ada yang laki-laki.

Ketentuan itu datangnya dari sisi Allah SWT dan juga merupakan ijma’ para ulama dari semua kalangan.

Adapun banci, tentu kita harus bedah dulu dari segi pandangan agama Islam. Siapakah yang dimaksud dengan banci? Adakah dia termasuk khuntsa ataukah mukhannas.

1. Khuntsa

Khuntsa adalah orang yang secara fisik punya dua alat kelamin sejak lahir, yaitu kelamin laki-laki dan kelamin wanita. Tapi kejadiannya sangat jarang terjadi, walau tetap dituliskan oleh para ulama dalam kitab fiqih mereka terdahulu. Artinya kasusnya bukan sama sekali tidak ada, hanya jarang sekali terjadi.

Para ulama menuliskan ada dua jenis khuntsa. Pertama Khuntsa biasa dan kedua khuntsa musykil.

Khutnsa biasa adalah seorang yang lahir dalam keadaan punya dua alat kelamin sekaligus. Namun salah satu alat kelaminnya lebih dominan dan lebih berfungsi. Sedangkan alat kelamin yang satunya kurang dominan, walaupun mungkin saja sedikit berfungsi.

Adapun khuntsa musykil, sesuai namanya, memang musykilah. Lantaran dia terlahir dengan dua alat kelamin yang berbeda dan keduanya berfungsi dengan baik. Tapi dari sekian banyak khuntsa, yang sampai ke level musykil ini nyaris hampir tidak pernah ada.

Khuntsa pada hakikatnya bukan banci, karena meski dia punya dua alat kelamin, namun salah satunya lebih dominan. Misalnya lebih dominan alat kelamin laki-laki. Meski punya alat kelamin perempuan, namun dia malah tidak mau berpenampilan sebagai perempuan. Penampilannya tetap seperti laki-laki seperti biasa.

Dalilnya adalah sabda Rasulullah SAW:

Dari Ibnu Abbas radhyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang bayi yang lahir dengan dua jenis kelamin, bagaimana urusan pembagian warisannya. Beliau SAW menjawab, “Dia mendapat warisan berdasarkan bagaimana kencingnya.” (HR Al-Baihaqi)

Maksudnya, kalau dia kencing lewat kelamin laki-lakinya, maka dia dianggap laki-laki. Sebaliknya, kalau kencing lewat kelamin perempuannya, maka dia dianggap sebagai perempuan. Ini penting, karena pembagian harta warisan akan berbeda antara anak laki dengan anak perempuan.

Namun karena adanya dua kelamin secara alami ini, para ulama menetapan bahwa khuntsa tidak dibenarkan menjadi imam buat jamaah yang laki-laki. Juga tidak dibenarkan jadi imam buat sesama khuntsa.

2. Mukhnnats

Dibandingkan dengan kasus khuntsa, sebenarnya yang paling sering kita lihat dan kita saksikan adalah Mukhnnats.

Mutakhnnats adalah seorang yang secara fisik laki-laki, lalu otaknya dibikin ‘gila’ oleh lingkungan sehingga dia berpikir bahwa dirinya perempuan. Orang seperti ini selamanya adalah laki-laki, tidak pernah jadi perempuan.

Sebab dalam Islam., laki-laki atau perempuan tidak ditetapkan berdasarkan apa yang dirasakan, atau yang dipikirkan, atau yang kumandangkan. Sama sekali tidak. Kelelakian ditentukan oleh alat kelamin saat dilahirkan.

Kalau seorang lahir sebagai laki-laki, dalam arti dia punya alat kelamin laki-laki, maka selamanya dia adalah laki-laki. Kalau syetan dan iblis laknatullah membisiki hatinya dengan sejuta kesesatan, lalu dia melakukan operasi kelamin, maka selain dapat laknat dari Allah karena mengubah ciptaan-Nya, dia juga akan mendapat adzab yang pedih, lantasan Allah SWT melaknat laki-laki yang bergaya dan berpenampilan wanita.

Sekedar bergaya seperti wanita saja sudah dilaknat, walau pun cuma peran dalam film, apalagi pakai operasi ganti kelamin segala. Dosanya berlipat dua tentunya. Naudzubillahi min dzalik.

Nah, orang seperti ini adalah orang yang tidak punya muru’ah, dan tentunya tidak termasuk kategori orang yang punya ‘adaalah. Orang seperti ini adalah pelanggar dosa besar. Maka tidak diperkenankan kita shalat di belakang orang yang tidak punya muru’ah, tidak adil dan sekaligus pelaku dosa besar secara terang-terangan.

Dalam syariat Islam yang tegak sebagai sebuah sistem hukum positif, para banci seperti ini harus diperiksa secara mendalam dan dihukum ta’zdir agar kembali ke jalan yang benar. Dan tentunya semua media massa yang ikut mengembangkan pola hidup kebancian ini harus dihentikan, karena berisi ajaran yang sesat dan menyesatkan.

Artis Bencong Laknatullahi ‘Alaihim

Termasuk yang wajib dihentikan adalah kelakuan para artis yang sering tampil jadi banci, walau cuma pura-pura, tapi tindakan itu jelas menghina dan melecehkan agama. Mereka ini perlu diteraphi atau diajak sering-sering ziarah kubur. Biar tahu dan merasakan bahwa adzab kubur itu menyeramkan, pedih dan pasti kita tidak akan kuat.

Para artis yang sering jadi bencong itu juga perlu sering-sering diajak ke kamar mayat, terutama yang matinya tidak wajar, seperti terlindas truk, atau loncat dari gedung tinggi, atau disambar petir, atau tersambar kereta api yang melaju kencang.

Buat apa?

Biar mereka tahu bahwa nanti kalau mereka mati, dan memang pasti mati cepat atau lambat, maka nasib mereka akan jauh lebih parah dari semua mayat itu. Kita perlu yakinkan mereka bahwa ini bukan sekedar menakut-nakuti, tapi ini kenyataan.

Terapi ini bukan hanya berlaku buat para artis yang sok jadi bencong itu, tetapi juga berlaku buat para kru dan para produser yang duitnya nanti jadi saksi di akhirat, bahwa dia telah menyebarkan paham sesat dan menyesatkan umat, lewat tayangan yang ada bencongnya.

Dan tentu saja juga berlaku buat para penonton di rumah yang malah ikut asyik tertawa melihat artis tidak lucu bergaya bencong. Tertawanya para penonton itu nanti juga harus dipertanggung-jawabkan di depan malaikat.

Setidaknya pertanyaan itu begini: Mengapa kamu tertawa melihat kemungkaran dan kebatilan? Mengapa kamu bukannya mengubah kemaksiatan itu tapi malah ikut menikmatinya? Mengapa kamu diamkan saja ketika ada orang bergaya bencong dan tidak ikut memberi peringatan?

Dan sejuta pertanyaan lainnya yang rasanya kita tidak akan mampu menjawabnya. Kalau sudah kejadian seperti itu, pasti kita semua akan bilang begini: Ya Allah, mengapa saya dulu jadi manusia, mengapa saya tidak dijadikan tanah saja?

Wallahu a’lam bishshsawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Di sadur dari http://www.ustsarwat.com/web/ust.php?id=1212846316

Artikel Menarik Lainnya :

  1. Bolehkah Menikahi Wanita Hamil ? Assalamualaikum wr wb. Ustadz, bagaimana hukum pernikahan yang calon wanitanya sudah hamil duluan sebelum akad baik dengan laki-laki yang telah menghamilinya maupun dengan laki-laki lain (bukan yang menghamilinya)? 1. Apakah...

Tags: ,

Category: Konsultasi

About the Author ()

Leave a Reply

banner ad
banner ad

Switch to our mobile site