banner ad

Makna Idul Fitri

| 25 Desember 2011 | 1 Comment
  • Sharebar

  IDUL FITRI sebentar lagi segera hadir kembali sebagai penutup ibadah puasa Ramadhan tahun 1432 Hijriyah ini. Sebagaimana ia selalu hadir setiap tahun. Kaum muslimin pun tentu telah bersiap-siap dengan penuh kegembiraan dan keceriaan untuk menyambut dan merayakannya. Namun sudah benarkah sikap dan cara kita selama ini dalam memaknai, menyambut dan merayakan Idul Fitri? Ini yang harus selalu menjadi bahan perenungan dan muhasabah (introspeksi dan evaluasi diri) kita setiap saat, khususnya setiap kali kita berjumpa dengan Idul Fitri.

Syi’ar dan Hari-nya Allah

Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua hari raya dalam Islam yang ditetapkan langsung oleh Allah sebagai pengganti hari-hari raya yang pernah dikenal oleh masyarakat Arab sebelum Islam datang (HR An-Nasa’i, Abu Dawud dan Ibnu Hibban). Maka Idul Fitri – dengan demikian – merupakan salah syi’ar dan hari-nya Allah yang harus kita sambut dan rayakan dengan sikap penuh rasa ibadah, pemuliaan dan pengagungan – dalam batas-batas koridor syar’i – sebagai bukti ketaqwaan hati kita. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),”Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu termasuk (bukti dan wujud) ketaqwaan hati” (QS Al-Hajj : 32). Dan sebaliknya kita tidak boleh menyambut dan merayakannya dengan cara-cara yang justru menjauhkan diri kita dari Allah dan hati kita dari ketaqwaannya.

Disini juga perlu diingatkan bahwa, masalah hari raya yang merupakan syi’ar dan hari-nya Allah, baik fitri maupun adha, bukanlah masalah shalat id, seperti yang dipersepsikan banyak kalangan selama ini. Melainkan ia adalah masalah merayakan hari. Makanya disebut hari raya, yakni hari yang dirayakan. Dimana shalat id hanyalah salah satu saja diantara syi’ar-syi’arnya. Dan merayakan hari itu tidak bisa sendiri-sendiri atau masing-masing. Melainkan harusnya serempak dan bersama-sama. Agar semua bisa merasakan dan memiliki hari raya yang utuh dan penuh, sebagaimana yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, para sahabat, generasi salafus saleh dan khalafus shaleh semuanya. Sementara itu, ketika terjadi perbedaan penentuan hari raya, seperti yang hampir pasti terjadi lagi untuk idul fitri tahun ini, hari id yang dirayakan oleh masing-masing kelompok ummat, tidak lagi merupakan hari raya yang utuh dan penuh, melainkan hanya separoh hari raya saja. Karena separohnya yang lain telah atau baru akan dirayakan oleh kelompok yang lain. Belum lagi bila ternyata “hari raya”-nya justru lebih dari dua, maka masing-masing akhirnya hanya memiliki sepertiga atau bahkan sperempat hari raya saja. Jadi akhirnya, sebenarnya mana yang benar-benar hari raya itu?

 Hari Kegembiraan dan Perayaan

Semua kita bergembira dan bersuka ria saat menyambut Idul Fitri. Memang, dibenarkan dan bahkan disunnahkan kita merayakan Idul Fitri dengan hal-hal yang menyenangkan dan menggembirakan, termasuk misalnya dengan tampilan beragam permainan yang syar’i. Tapi yang perlu menjadi perenungan dan introspeksi kita adalah bahwa kegembiraan yang kita rasakan haruslah merupakan buah syukur kita kepada Allah yang telah mengkaruniakan taufiq kepada kita untuk bisa mengoptimalkan pengistimewaan Ramadhan dengan amal-amal yang serba istimewa, dalam rangka menggapai taqwa. Dan bukan kegembiraan yang muncul karena merasa telah lepas dari Ramadhan yang disikapi sebagai bulan beban yang memberatkan, mengekang dan membelenggu!

Pembaharuan Deklarasi Tauhid

Dalam menyambut Idul Fitri juga Idul adha, disunnahkan bagi kita untuk banyak mengumandangkan takbir, tahlil, tasbih dan tahmid sebagai bentuk penegasan dan pembaharuan deklarasi iman dan tauhid. Itu berarti bahwa identitas iman dan tauhid harus selalu kita perbaharui dan kita tunjukkan, termasuk dalam momen-momen kegembiraan dan perayaan, dimana biasanya justru kebanyakan orang lalai dari berdzikir dan mengingat Allah.

 Simbol Ukhuwah dan Persatuan

Puasa Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha adalah ibadah dan momen syi’ar jama’iyah (kolektif/syi’ar kebersamaan), dimana semestinya seluruh kaum muslimim memulai puasa secara bersama-sama, mengakhirinya secara bersama-sama, dan bergembira dalam merayakan Idul Fitri serta Idul Adha juga secara bersama-sama, khususnya dalam satu wilayah tertentu. Tapi kaidah itu ternyata tidak mudah direalisasikan saat ini. Kita masih sering berbeda dan berselisih, termasuk kemungkinan besar dalam ber-Idul Fitri tahun ini. Ini memang realita yang harus kita sikapi dengan arif dan hikmah. Namun kita semua patut berharap dan juga harus selalu berusaha agar hendaknya suatu saat bisa dicapai kata sepakat antar organisasi dan tokoh umat Islam untuk bisa menyatukan penentuan awal dan akhir Ramadhan, Idul Fitri serta Idul Adha. Karena kita tidak menemukan contoh dalam sejarah Islam adanya perbedaan dalam berpuasa dan berhari raya dalam satu wilayah apalagi satu kota lebih-lebih satu kampung dan dalam satu rumah, sebagaimana yang terjadi saat ini, disini, di negeri ini.

Yang pernah terjadi sejak masa sahabat hanyalah perbedaan antar wilayah yang berjauhan, seperti yang kita dapati dalam hadits Kuraib (HR Muslim, Ahmad dan lain-lain) dimana Ibnu ‘Abbas dan para sahabat di Madinah tidak mengikuti hasil ru’yah Khalifah Mu’awiyah dan kaum muslimin di Syam, namun berpegang pada hasil ru’yah lokal di Madinah sendiri.

Sementara itu jika saat ini ada sebagian kaum muslimin yang sangat bersemangat untuk mengikuti ru’yah secara global (ru’yah ‘alamiyah), maka hal tersebut memang ideal dalam tataran wacana. Namun dalam realitas saat ini hal tersebut sangat tidak ideal, tidak logis, dan bahkan tidak syar’i. Karena bagaimana mungkin kita ingin bersatu – dalam berpuasa Ramadhan dan berhari raya – dengan kaum muslimin di wilayah dan negara lain yang sangat jauh, semisal di Timur Tengah, namun kita justru berbeda dan berselisih dengan kaum muslimin yang ada di sekitar kita? Yang semestinya dilakukan adalah mengusahakan penyatuan itu dimulai dari wilayah-wilayah yang terdekat untuk kemudian pada saatnya bisa dicapai persatuan seluruh dunia Islam.

Itulah beberapa makna Idul Fitri yang patut kita renungkan dan hayati. Semoga saja Idul Fitri kali ini bisa benar-benar lebih bermakna bagi kita semua.

Ahmad Mudzoffar Jufri

Artikel Menarik Lainnya :

  1. Zakat Fitri Dan Konsistensi Berinfaq   Zakat fitri, atau yang lebih dikenal dengan zakat fitrah, ialah zakat yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim atas nama dirinya dan yang dibawah tanggung jawabnya, pada penghujung bulan Ramadhan,...

Tags:

Category: Hikmah, Ibadah

About the Author ()

Comments (1)

Trackback URL | Comments RSS Feed

  1. Anggira mengatakan:

    Taqobbalallahu Minna wa Minkum, Shiyamana wa shiyamakum, Ja’alanallahuwa iyukam, Minal ‘Aidin wal Faizin. Mohon maafkan lahir bathin atas segala kata, tulisan, ucapan, pikiran dan perasaan yang salah baik yang sengaja ataupun tidak. Semoga Allah menerima semua amal kebaikan kita dan memberikan ampunan atas segala dosa kita semua. Amin[]

Leave a Reply

banner ad
banner ad

Switch to our mobile site