banner ad

Nilai Waktu Bagi Muslim

| 31 Desember 2011 | 0 Comments
  • Sharebar

Waktu dalam perspektif Islam termasuk diantara perkara yang mendapat perhatian besar. Nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah banyak menjelaskan tentang keutamaan waktu. Ketika menerangkan tentang nikmat-nikmat yang Allah SWT. tundukkan bagi manusia, waktu termasuk diantara nikmat tersebut. Allah SWT berfirman:

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ. وَآَتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ .
Artinya: “Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. (QS. Ibrahim: 33-34).

Allah SWT. juga seringkali bersumpah dengan bagian-bagian waktu, seperti waktu malam, waktu siang, shubuh, dhuha, ashar, dan lainnya. Para mufassirin (ahlli tafsir) berpendapat, bahwa jika Allah SWT. bersumpah dengan suatu hal, maka itu menandakan betapa penting hal tersebut, dan berarti bahwa Allah SWT. sedang mengarahkan perhatian Umat Islam terhadapnya. Allah SWT. berfirman:
وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى . وَالنَّهَارِ إِذَا تَجَلَّى.
Artinya: “Demi malam apabila menutupi (cahaya siang). Dan siang apabila terang benderang”. (QS. Al-Lail: 1-2).
وَالْفَجْرِ. وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Artinya: “Demi waktu fajar. Dan malam yang sepuluh”. (Al-Fajr: 1-2).
وَالضُّحَى. وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى
Artinya: “Demi waktu Dhuha (waktu matahari sepenggalahan naik). Dan demi malam apabila telah sunyi (gelap)”. (Adh-Dhuha: 1-2).
وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian”. (Al-‘Ashr: 1-2).

Rasulullah Saw. dalam sabdanya pernah menerangkan tentang empat pertanyaan inti yang diarahkan kepada manusia nanti di Akhirat, dan dua diantara empat pertanyaan tersebut adalah waktu. Dari Muadz bin Jabal, bahwa Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Kedua kaki seorang hamba tidak akan tergelincir ke dalam Neraka sampai ditanya tentang empat hal: tentang umurnya bagaimana dia habiskan, tentang masa mudanya bagaimana dilewati, tentang hartanya darimana dihasilkan dan kemana ia salurkan, tentang ilmunya apakah ia amalkan. (HR. Tabrani dan Bazzar dengan redaksi serupa). Umur dan masa muda adalah dua diantara empat pertanyaan inti di Akhirat nanti.

Tabiat Waktu
Diantara tabiat waktu, sebagaimana diulas oleh Syekh DR. Yusuf Al-Qaradhawi sebagai berikut:
   Pertama, waktu cepat berlalu. Jika seseorang coba merenungi tentang waktu yang sudah ia lewati. Siapa yang berumur dua puluh tahun, tiga puluh tahun, empat puluh tahun, lima puluh tahun dan seterusnya, ia akan merasakan betapa cepat waktu puluhan tahun itu berlalu. Al-Qur’an juga menegaskan hal itu ketika ia menggambarkan diantara fenomena hari kebangkitan nanti. Allah SWT. berfirman:
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا
“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (QS. An-Nazi’at: 46).
Dalam ayat lain:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَة مِنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ
“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat di siang hari, (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk. (QS. Yunus: 45).

   Kedua, waktu yang sudah berlalu tidak mungkin kembali lagi. Setiap tahun yang telah berlalu, bulan yang lalu, pekan yang lalu, bahkan menit yang lalu, tidak mungkin bisa dikembalikan sekarang. Inilah yang pernah disampaikan olah Imam Hasan Basri: “Tidak ada satu haripun yang menampakkan fajarnya kecuali ia akan menyeru “Wahai anak Adam, aku adalah harimu yang baru, yang akan menjadi saksi atas amalmu, maka carilah bekal dariku, karena jika aku telah berlalu aku tidak akan kembali lagi hingga Hari Kiamat.” Itu adalah perkataan Imam Hasan Basri, bukan sabda Rasul Saw. Namun lantaran sangat bernilai perkataan itu, Imam Ali Zainal Abidin mengomentari bahwa: “Perkataannya mirip perkataan para Nabi.”

Tabiat waktu yang ketiga adalah waktu merupakan aset paling berharga. Ketika waktu adalah sesuatu yang tidak bisa kembali dan tidak bisa tergantikan, maka waktu adalah aset yang paling mahal bagi manusia. Dan mahalnya nilai sebuah waktu lantaran ia adalah wadah bagi setiap amal dan produktivitas. Waktu adalah modal utama bagi individu maupun masyarakat. Imam Hasan Basri pernah berkata: “Saya melihat ada segolongan manusia yang memberikan perhatian kepada waktu lebih daripada perhatian kalian terhadap dirham dan dinar”.

Waktu tidak bisa dihargai dengan uang, seperti kata pepatah. Karena waktu lebih berharga dari uang, lebih berharga dari emas, harta dan kekayaan. Waktu adalah kehidupan itu sendiri. Karena kehidupan bagi seseorang adalah waktu dan detik-detik yang dijalaninya mulai ia lahir hingga wafat kemudian.

Secara Optimal dan Seimbang
Setelah kita mengetahui nilai dan tabiat waktu, maka apa yang harus kita lakukan adalah menggunakannya secara baik dan optimal. Seorang Muslim dituntut mengisi waktu dengan penuh kesadaran dan keterarahan. Waktu tidak dilewati dengan kesia-siaan. Dan begitulah seharusnya sifat seorang Muslim. Rasulullah Saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra.:
مِنْ حُسْن إِسْلَام الْمَرْء تَرْكه مَا لَا يَعْنِيه
“Diantara baiknya keislaman seseorang adalah ketika ia meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya”. (HR. Ahmad, Tarmidzi dan Ibnu Majah). Para Salaf Saleh juga berkata: “Diantara tanda datangnya kemurkaan adalah sikap menyia-nyiakan waktu”.

Seorang Muslim dituntut mengisi waktu-waktunya dengan amal yang bermanfaat baik amal yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Amal yang bersifat duniawipun bisa menjadi ibadah bahkan jihad jika memang diniatkan ikhlas karena Allah dan dilakukan sesuai dengan ajaran Islam. Bila ada waktu luang, setiap Muslim dituntut untuk mengisinya dengan amal kebaikan. Karena waktu luang merupakan nikmat yang sering dilupakan dan tidak disadari oleh kebanyakan manusia. Manusia sering tertipu lantaran waktu luang. Rasulullah Saw. bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas:
نعمتان مغبون فيهما كثير من الناس الصحة والفراغ
“Dua nikmat dimana banyak manusia yang tertipu; nikmat kesehatan dan waktu luang”. (HR. Bukhari).

Nikmat waktu luang bisa menjadi ancaman bagi seseorang bila tidak diisi dengan amal kebaikan. Karena waktu luang itu pada akhirnya nanti akan diisi dengan salah satu diantara dua, positif atau negatif.  Syekh Abdullah Azzam pernah berkata:
إن لم تشغل نفسك بالكبائر شغلتها الصغائر
“Jika Anda tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang besar, maka ia akan disibukkan dengan hal-hal yang remeh”.

Sesungguhnya amal kebaikan yang harus dipenuhi seorang Muslim begitu banyak, karena itu setiap Muslim harus mengisi waktu mereka dengan amal kebaikan tersebut secara optimal. Dalam hadits Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. kita bisa memahami tentang banyaknya jumlah sedekah yang seyogyanya dipenuhi oleh seorang Muslim setiap hari. “Setiap siku dan anggota tubuh manusia dibebankan sedekah atasnya pada setiap hari. Mendamaikan antara dua orang secara adil adalah sedekah, membantu orang lain untuk naik ke atas kudanya atau mengangkat barang bawaannya adalah sedekah, pekataan yang baik juga sedekah, setiap langkah menuju Masjid juga sedekah, dan menyingkirkan sesuatu yang membahayakan dari jalan juga sedekah”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Shahih Muslim disebutkan jumlah siku dan anggota tubuh yang dimaksud ada tiga ratus enam puluh. Jadi semuanya harus dikeluarkan sedekahnya dengan bentuk amal kebaikan seperti dicontohkan dalam hadits.

Dalam hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Amr, Rasulullah Saw. juga menjelaskan serangkaian hak-hak yang harus dipenuhi olehnya. Dan dari hadits tersebut kita bisa memahami tentang banyaknya tugas dan amal seorang Muslim. Abdullah bin Amr berkata: Rasulullah Saw. berkata padaku: “Wahai Abdullah, Aku pernah diberitakan tentang dirimu yang selalu melakukan puasa pada setiap siang dan selalu melakukan shalat malam, benarkah? Maka aku menjawab: Benar wahai Rasulullah. Rasulullah bersabda: “Jangan lakukan itu, puasalah dan berbukalah, shalat malam dan tidurlah, karena  tubuhmu punya hak atasmu, matamu punya hak, isterimu punya hak, dan tamumu juga punya hak”. (HR. Bukhari). Ada sejumlah hak yang harus dipenuhi oleh setiap Muslim. Ada hak untuk Tuhannya, hak untuk dirinya, untuk anak dan isterinya, untuk tetangganya, untuk masyarakatnya, dan seterusnya. Demikian Rasulullah menjelaskan banyaknya tugas dan hak-hak yang harus dipenuhi seorang Muslim. Karena itu seorang Ulama pembaharu terkemuka berkata: “Tugas dan kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia”.Wallahu a’lam.

Sumber:http://www.ikadi.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=702:nilai-waktu-bagi-muslim&catid=41:tafakkur&Itemid=72

Artikel Menarik Lainnya :

  1. Keajaiban Istigfar Bagi Seorang Janda Aku berusia 30 tahun saat suamiku wafat dengan meninggalkan lima orang anak, laki-laki dan perempuan, yang masih kecil-kecil. Semasa hidupnya, suamilah tulang punggung nafkah keluarga sepenuhnya. Sedangkan aku menjalankan tugas...

Tags: ,

Category: Akhlak, Fikroh

About the Author ()

Leave a Reply

banner ad
banner ad

Switch to our mobile site