banner ad

RAMBU-RAMBU BERDZIKIR

| 16 Februari 2012 | 0 Comments
  • Sharebar

Ilustrasi dari Inet

Dalam berdzikir kita harus memperhatiakn rambu-rambunya, agar tidak menyalahi sunnah Rasulullah.Diantara rambu-rambu dalam berdzikir yang harus kita patuhi adalah:

1. Berdzikirlah dengan niat yang ikhlas dan tujuan yang benar.

Yakni berdzikir dengan niat utama sebagai wujud ibadah kepada Allah, dan bukti keimanan tauhid kepada-Nya. Maka hindarilah, karenanya, tujuan-tujuan yang tidak syar’i dalam berdzikir. Seperti misalnya berdzikir dengan niat dan tujuan untuk mendapatkan kesaktian, kekebalan, ”ilmu” kanuragan, ”ilmu ladunni”, ”ilmu karamah”, ”ilmu” menghilang, ”ilmu” mecah rogo (sehingga diyakini bisa tampil dimana-mana dalam waktu bersamaan), ”ilmu” menyingkap tabir ghaib, ”ilmu” menangkap jin, dan lain sebagainya, diantara motivasi-motivasi dzikir yang aneh-aneh dan tidak syar’i!

2. Utamakanlah berdzikir dengan dzikir-dzikir yang ma’tsur (yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam).

Disamping tentu juga dengan lafadz-lafadz dzikir yang bersumber dari Al-Qur’an Al-Karim.

3. Bersikaplah selektif dan hati-hati terhadap paket-paket himpunan dzikir yang tidak ma’tsur.

Utamakan selalu merujuk pada kitab-kitab panduan dan himpunan dzikir yang jelas-jelas bersandar dan bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Misalnya salah satu kitab klasik standar terlengkap dalam hal himpunan dzikir adalah kitab ”Al-Adzkar” oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullah. Disamping kitab-kitab kontemporer maupun klasik lainnya tentang himpunan dzikir-dzikir ma’tsur yang juga sangat banyak sekali.

4. Berdzikirlah dengan kalimat-kalimat dzikir yang lengkap dan sempurna, yang mengandung makna tauhid, dan bahkan yang secara eksplisit menegaskan tauhid yang murni itu.

Karena tujuan dan maksud utama dari dzikrullah adalah menyebut Allah dalam konteks makna pengagungan, pujaan, pujian, pengesaan, dan semaknanya. Sehingga esensi dari dzikrullah sebenarnya adalah pengulang-ulangan deklarasi kemurnian iman dan tauhid seorang mukmin. Oleh karena itu, seluruh contoh lafadz dzikir Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, adalah dengan kalimat-kalimat lengkap yang memberikan dan menunjukkan makna tauhid itu, secara eksplisit, jelas dan tegas. Seperti: Subhanallah (Maha Suci Allah); Al-hamdu lillah (Segala puji bagi Allah); La ilaha illah (Tiada tuhan yang berhak diibadahi selain Allah), Allahu Akbar (Allah Maha Besar); Dan lain-lain.

5. Oleh karena itu janganlah mendominankan berdzikir misalnya dengan dzikir-dzikir yang hanya menyebut dan melafalkan nama saja apa adanya (al-ismul mufrad) diantara nama-nama Allah, misalnya berdzikir dengan hanya mengucapkan Lafzhul Jalalah ”ALLAH” saja yang diulang-ulang! Karena disamping tidak adanya contoh dzikir seperti itu diantara dzikir-dzikir ma’tsur yang sangat banyak sekali dari tuntunan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Juga karena dzikir dengan hanya menyebut nama ”Allah” begitu saja, belum memberikan makna iman dan tauhid secara jelas dan definitif, yang merupakan esensi dan tujuan dari ibadah dzikrullah. Melainkan hal itu masih tergantung dan terpulang pada niat dan maksud hati orang yang melafalkannya, apakah tujuannya menyebut nama ALLAH itu dalam konteks iman dan tauhid ataukah tidak? Jadi sifatnya sangat relatif sekali. Oleh karena itu, kaum musyrik Quraisy dulu yang sudah sangat terbiasa dan akrab sekali serta fasih sekali dalam mengucapkan Asma ALLAH, tetap lebih memilih perang daripada harus melafalkan dzikir tauhid ”LA ILAHA ILLALLAH”, meskipun hanya sekali saja! Ini bukan berarti tidak boleh berdzikir dengan dzikir lafdzul jalalah ”ALLAH…ALLAH…”! Sama sekali bukan demikian maksudnya! Namun yang ingin diingatkan disini adalah, jangan sampai itu yang justru lebih diutamakan, diprioritaskan dan didominankan dalam berdzikir! Disamping juga untuk menegaskan tentang jauhnya jarak dan perbedaan, baik secara nilai maupun pahala juga dampak, antara berdzikir dengan lafdzul jalalah ”Allah…Allah…” saja, dan berdzikir dengan kalimat-kalimat dzikir yang lengkap dan sempurna seperti tasbih ”Subhanallah”, tahmid ”Al-hamdu lillah”, takbir ”Allahu Akbar”, apalagi tahlil ”La ilaha illallah”, dan seterusnya!

6. Sebaiknya sebisa mungkin dihindari segala bentuk pengkhususan dalam berdzikir, kecuali jika ada dasar dan landasan riwayat yang shahih atau alasan logis yang bisa dibenarkan. Dan hal itu baik berupa pengkhususan lafal-lafal dzikir tertentu, bilangan-bilangan tertentu, keyakinan akan fadhilah-fadhilah tertentu, waktu-waktu tertentu, maupun format serta tata cara tertentu dan semacamnya. Namun tentu tidak dinafikan potensi adanya khilafiyah (perbedaan pendapat) dalam hal ini, yang tetap harus disikapi dengan hikmah, tepat dan proporsional berdasarkan kaedah-kaedah fiqhul-ikhtilaf (fiqih penyikapan terhadap perbedaan khilafiyah).

7. Demikian pula diutamakan tidak melakukan iltizam (peng-ajeg-an secara spesifik dan khusus) untuk dzikir-dzikir yang bersifat umum (tidak ada tuntunan pengkhususan sifatnya), khususnya ketika yang demikian itu disertai atau berpotensi menimbulkan persepsi atau anggapan bahwa, peng-ajeg-an dengan sifat tertentu tersebut merupakan bagian dari sunnah. Meskipun tetap harus diakui bahwa, masalah ini juga termasuk yang khilafiyah diantara para ulama.

8. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,”Hendaklah lisanmu senantiasa basah karena berdzikir kepada Allah” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan lain-lain). Hadits ini menunjukkan bahwa dzikir yang ideal dan sempurna adalah yang dilafalkan dengan lesan, tentu disamping tetap harus bersumber dari hati. Oleh karena itu sangat tidak benar pendapat yang mengatakan misalnya bahwa, puncak dzikrullah (dengan arti menyebut Nama Allah), adalah ketika yang “menyebut” itu hanya tinggal hati saja, seiring tarikan nafas dan sebanyak detakan jantung. Serta ketika sudah tidak ada lagi keterlibatan pengucapan lesan (?!) disana. Pendapat ini tentu saja sama sekali tidak bisa dibenarkan, karena itu justru kebalikan dan bertentangan langsung dengan petuntuk Al-Qur’an dan tuntunan serta contoh sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dimana kaidahnya bahwa, dzikir yang sempurna itu adalah yang tetap menggabungkan antara dzikir (ingatan dan kesadaran) hati dan dzikir (penyebutan dan pengucapan) lesan sekaligus!

Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA dg sedikit editing
Untuk mendapat cerita dan tausiah-tausiah  lainya. silahkan gabung ke: http://goo.gl/oKKB5

Tidak Ada tulisan Yang Berkaitan

Tags: ,

Category: Ibadah

About the Author ()

Leave a Reply

banner ad
banner ad

Switch to our mobile site