IBLIS BERJUBAH WALI

Ilustrasi dari Inet

Saya mau curhat sedikit. Seperti yang rekan-rekan lihat, judulnya saya akui memang agak provokatif. Bagaimana tidak? Sebab figur IBLIS dan WALI memiliki kontradiksi dalam segala hal. Mata orang awam bahkan sudah dapat menilai dengan tegas dan jelas, mana yang WALI dan mana yang IBLIS.

Tapi kawan, ada kalanya dalam hidup ini batas antara “kewalian” dan “iblisisme” itu menjadi begitu samar dan rabun. Batas yg seharusnya jelas itu, bahkan tampak seperti kabut di pagi hari. Sejuk terasa dikulit, tapi menghalangi kejernihan pandangan mata. Bukankah jauh lebih berbahaya bila kita menempuh suatu perjalanan dengan mata yang terhalang?! Ketimbang kita terlena dengan sejuknya perjalanan, jauh lebih selamat bila kita dapat melihat jalur apa yng sedang kita lalui.

Ada satu kisah menarik, anda tahu salah seorang sahabat Nabi saw yang bernama Ibnu Umi Maktum?! Nama beliau adalah Abdullah. Dan beliau seorang sahabat yang tunanetra. Namun demikian, beliau terkenal sebagai seorang yang gigih keimanan dan keislamannya serta LURUS jalan hidupnya. Oleh karena itu, setiap Nabi saw memimpin ghazwah,.. beliau meminta Ibnu Umi Maktum menjadi wali kota di Madinah menggantikan tugas-tugas kenegaraan beliau.

Nah, sebagai seorang tunanetra, tentu sahabat Ibnu Umi Maktum ini memiliki ketergantungan kepada bantuan orang lain dalam banyak hal, termasuk sholat jamaah di masjid . Setiap hari, setiap akan shalat, beliau selalu berangkat bersama seorang sahabat. Hal tu berlangsung lama, sampai Allah menakdirkan sahabat yg selalu menemani beliau ke masjid meninggal. Setelah “sang pengantar” meninggal, Ibn Umi Maktum menemui kesulitan untuk ke masjd, ditambah lagi, rumah beliau juga cukup jauh dari masjid. Maka suatu hari, beliau menemui Nabi saw dan bertanya : “Ya rasulallah, bolehkan saya shalat dirumah saja. Saya seorang yang buta, sulit bagi saya untuk selalu ke masjid”. Mendengar hal itu, Yang Mulia Nabi saw bersabda : “Apakah engkau masih bisa mendengar suara azan? (maksudnya: engkau memang buta, tapi apa juga tuli?)”.

Ibnu Umi Maktum menjawab : “Sungguh saya msih sangat mendengar setiap seruan azan yang dikumandangkan ya Rasulallah”

Lalu Nabi bersabda : “Kalau begitu, datanglah untuk selalu berjamaah bersama kami”

Setelah mendengar sabda Nabi saw, Ibnu Umi Maktum “melihat” ia tidak punya pilihan lain selain taat pada Rasulullah saw.

Esok subuh, mendengar alunan suara Bilal, Ibnu Umi Maktum segera berangkat ke masjid. Namun malang, karna tidak mampu melihat, maka ia tersandung batu dan terjatuh hingga keningnya berdarah. Saat berusaha bangkit itulah, ada sseorang yang menolong dan mengantarnya ke masjid. sang penolong, yang ternyata mash muda itu juga mengantar Ibn Umi Maktum setelah selesai jamaah sampai ke rumah. Tidak hanya itu, ia juga bahkan berjanji esok, lusa, dan seterusnya untk mengantar dan menjemput Ibnu Umi Maktm ke dan dari masjid.

“Mengapa kau begitu baik padaku?” tanya sahabat yang buta ini

“Ah, tak apa. Kita memang harus saling menolong antar sesama makhluk Allah” jawab sang pemuda.

Page 1 of 2 | Next page

Artikel Menarik Lainnya :

  1. Kisah Seorang Lelaki Shaleh Dan Iblis Pada awalnya suami istri itu hidup tenteram dan...Read moreArtikel Yang BerkaitanINI KHAUF UMAR, BAGAIMANA KHAUF KITA?KENDALA RASA NIKMAT IMANPARAMETER SEBUAH KEJUJURAN (AMANAH)AIR MATA YANG MENETES KARENA TAKUT KEPADA ALLAHMENYIMPAN HARTA...