BELAJAR DARI ORANG YANG TELAH KEMBALI
Saudaraku…
Merupakan kebiasaan Abu Darda’ ra adalah ziarah kubur dan merenung beberapa saat di atas pemakaman. Saat ditanya mengapa ia melakukan hal itu? Ia menjawab:
“Aku duduk di dekat orang-orang yang mengingatkan-ku akan hari kembaliku. Dan jika aku bangkit meninggalkannya, mereka tidak pernah membicarakan aib-ku.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).
Saudaraku..
Ziarah kubur disyari’atkan setiap waktu sepanjang tahun. Dan tidak dikhususkan setiap menjelang Ramadhan seperti anggapan sebagian kaum muslimin. Karena hikmah dari kunjungan kita kepada orang-orang yang telah kembali kepada Allah swt adalah agar kita sadar dengan kematian yang bisa menyapa kita setiap waktu. Tak mengenal keadaan, usia, jabatan, profesi, jenis kelamin, mukim atau musafir. Sakit atau sehat. Kaya atau miskin. Dan yang senada dengan itu.
Juga agar kita mengenang masa depan kita di sana. Setelah dikuburkan, tiada lagi beda status kita. Lajang atau menikah. Luas atau sempit rezki kita. Banyak anak atau tiada memiliki keturunan. Banyak berderma atau banyak hutangnya. Wakil rakyat atau rakyat jelata. Raja atau budak sahaya. Majikan atau supir serta pembantunya. Dan seterusnya. Semua disatukan dalam perkuburan kaum muslimin. Padahal semasa hidupnya, bisa jadi ada orang yang menjaga jarak dengan yang lainnya. Merendahkan sebagian serta memuja yang lainnya.
Setelah berada di alam barzakh, tiada yang diharapkan dari orang yang hidup selain do’a kebaikan, ampunan dan kiriman pahala. Tiada lagi kebanggan dan kebesaran di sana. Karena mereka telah sadar, bahwa yang membantu mereka sekarang adalah iman dan amal shalih. Dan bukan harta atau jabatan yang dulu pernah disandangnya.
Saudaraku..
Sering-seringlah kita mengunjungi mereka. Sebab, hal itu akan mengingatkan kita bahwa kita akan menyusul mereka suatu saat nanti. Di antara mereka ada yang pernah bersebelahan rumah dengan kita. Atau mungkin teman sekolah kita. Atau teman sekantor dengan kita. Dan bahkan bisa jadi ada yang menjadi orang terdekat dengan kita, karena mereka adalah orang tua, saudara kandung, ipar atau karib kerabat kita.
Sekiranya mereka bisa berbicara dengan kita. Pasti mereka akan berpesan agar kita tidak tertipu dengan dunia. Banyak beramal shalih dan merawat keimanan yang ada di hati kita. Karena itu merupakan sebaik-baik bekal untuk menyusul mereka di sana.
Saudaraku..
Abu Darda ra juga menyebutkan alasan seringnya ia mengunjungi pemakaman kaum muslimin; mereka tidak pernah mencela dan menggunjing keburukannya.
Inilah perbedaan orang hidup dengan orang yang telah tiada. Maka orang yang sadar bahwa kematian selalu mengintainya. Ia tidak pernah melakukan suatu perbuatan yang dapat mengikis amal shalihnya seperti ghibah dan yang lainnya.
Saudaraku…
Sudahkah kita belajar hidup dari orang-orang yang telah meninggalkan kehidupan ini? Wallahu a’lam bishawab.
Riyadh, 16 Juli 2012 M
Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far
(http://www.facebook.com/profile.php?id=100000992948094)
Artikel Yang Berkaitan
Artikel Menarik Lainnya :
- BELAJAR DARI PILKADA DKI Saudaraku.. Ada seorang sahabat yang hatinya dibanjiri kesedihan setelah melihat hasil PILKADA DKI. Ia tak sanggup membendung tetesan air mata saat pasangan calon no: 4 hanya berada di urutan ketiga....
- Belajar dari Dzul Bajadain (Pemilik Baju yang Dibelah Dua) Saudaraku… Saat itu suasana malam terasa gelap gulita, cuaca dingin menusuk tulang. Para sahabat pun beristirahat total di perkemahan ala kadarnya yang mereka dirikan, agar tubuh kembali segar dan sehat...
- 5 Karakter Orang yang Bahagia Dunia dan Akherat Saudaraku, apakah kita termasuk orang yang berbahagia di dunia dan beruntung di akherat kelak? Ibnul Qayyim rahimahullah, berbagi ilmunya untuk kita mengenai parameter orang yang bahagia dunia akherat, di antara...
- Ganjaran Bagi Orang Yang Menjaga Keikhlasan Sebuah amalan tidak akan diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala jika pelakunya tidak melakukan amalan tersebut secara ikhlas, yaitu karena ketaqwaannya pada Allah subhanahu wata’ala. Beberapa keutamaan dan buah yang...
- Orang-orang Yang Pertama Kali Masuk Islam di Muka Bumi ini Yang pertama kali menyambut dakwah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam adalah istrinya, yaitu Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid. Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid Ia seorang wanita yang hanif (condong kepada...











