banner ad

KENALI TANDA-TANDA RIYA’

| 12 Juli 2012 | 0 Comments
  • Sharebar

Ilustrasi dari Inet

Saudaraku..
Riya’ adalah salah satu penyakit mental, yang bila terdapat pada diri kita, maka seluruh amalan yang kita ukir dalam kehidupan menjadi sirna tak berbekas. Allah swt mengilustrasikan amalan yang terkontaminasi riya’ “perumpamaannya seperti batu licin yang di atasnya ada debu kering, lalu batu itu ditimpa hujan lebat, maka menjadilah ia bersih tak tersisa.” Lihat, surat Al Baqarah: 264.

Riya’ merupakan penyakit hati yang paling dikhawatirkan Nabi saw hinggap di hati para sahabatnya, seperti yang tersebut dalam hadits riwayat Ahmad. Bahkan Nabi saw membahasakan riya’ sebagai syirik kecil.

Kita adalah umat Rasulullah saw yang hidup tak sezaman dengan beliau. Kekhawatiran beliau mengenai penyakit mental ini akan menimpa kita tentu lebih besar. Karena dilihat dari sisi manapun, kita bukanlah bandingan para sahabat.

Saudaraku..
Mengukir amal-amal ketaatan dengan susah payah, tapi kita memberikan ruang kepada riya’ hinggap di hati kita, maka hal itu ibarat kita telah mengisi kolam renang dengan air bersih hingga penuh, lalu dengan sadar kita taburi racun. Sungguh perbuatan yang sia-sia. Dan bahkan membahayakan diri kita sendiri.

Demikianlah, riya’ bukan hanya akan menghapus amal-amal baik kita. Tetapi ia akan membahayakan masa depan kita di akherat. Di mana ia akan menyeret kita masuk ke dalam neraka. Dan itulah yang pernah dikabarkan oleh Nabi saw perihal tiga orang yang telah mengukir prestasi kebaikan yang sangat mengagumkan dalam pandangan manusia. Pertama; orang yang berjuang di jalan Allah hingga terbunuh. Kedua; seorang qari’ al Qur’an yang membacakan al Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain. Ketiga; orang yang diberi keluasan harta dan ia pergunakan hartanya untuk berderma.

Akhirnya di pengadilan Allah, ketiga-tiganya dilemparkan ke dalam neraka. Lantaran orientasi perjuangannya semata-mata agar mendapat julukan “Syahid”. Motivasi kefasihannya membaca kitabullah supaya dilabeli “Qari al Qur’an”. Dan tujuan berinfaq dan berderma supaya manusia menggelarinya sebagai “Dermawan”.

Saudaraku..
Barangkali amalan kita belum mencapai level ketiga orang yang disebutkan oleh Nabi saw tersebut. Walau demikian, kita tidak ingin terpeleset seperti mereka. Maka cara yang kita tempuh adalah menjauhkan diri kita dari riya’ atau pamer amalan di hadapan manusia.

Bagaimana cara kita mengenali amal-amal shalih yang bercampur dengan riya’? Ali bin Abi Thalib ra berbagi pengalaman dan memberi kunci jawaban kepada kita. Di mana ia pernah berkata:

لِلْمُرَائِيْ ثَلاَثُ عَلاَمَاتٍ:

يَكْسَلُ إِذَا كَانَ وَحْدَهُ, وَيَنْشَطُ إِذَا كَانَ فِي النَّاسِ, وَيَزِيْدُ فِي الْعَمَلِ إِذَا أُثْنِيَ عَلَيْهِ وَيَنْقُصُ إِذَا ذُمَّ

“Orang yang riya’ dalam beramal memiliki tiga tanda:

•Malas beramal jika berada seorang diri.

•Giat beramal jika berada dalam keramaian manusia.

•Bertambah amalnya jika dipuji orang dan berkurang amalnya jika dicela orang lain.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..
Tanda pertama adalah malas beramal ketika sendirian jauh dari pandangan manusia. Kewajiban agama tak tertunaikan dengan baik, apatah lagi perkara-perkara yang sunnah.

Malas bangun malam untuk shalat tahajjud. Padahal di sepertiga malam terakhir, Allah swt turun ke langit dunia untuk mengabulkan permohonan hamba-Nya dan memberi ampunan bagi yang meminta kepada-Nya. Hari-hari teramat sepi dari tilawah al Qur’an. Shalat Dhuha sering terlewatkan. Lidah pun kering dari do’a dan zikir. Enggan berinfaq jika tidak diumumkan kepada khalayak ramai. Puasa sunnah dilakukan, jika ada buka puasa bersama dan seterusnya.

Saudaraku..
Tanda kedua dari riya’ adalah semangat beramal dan beribadah jika berada dalam keramaian manusia.

Jika kita mengimami shalat bagi masyarakat, kita membaca surat-surat yang panjang, ruku dan sujudnya pun dibuat sedemikian khusyu’. Tapi jika shalat di rumah, hanya sekadar menggugurkan kewajiban. Tiada khusyu’ dan tuma’ninah di sana.

Kita terdepan dalam berinfaq untuk kepentingan masjid, jika daftar para donator diumumkan kepada jama’ah. Tapi infaq secara rahasia, sangat berat untuk kita lakukan. Ketika berada di masjid dan dilihat banyak orang, kita sering tilawah al Qur’an dan membaca kitab hadits dan yang lainnya. Padahal ketika berada di rumah, kita sibuk menyaksikan acara sinetron, grand final Indonesian Idol, Silet, seputar Seleb, dan acara-acara yang mengumbar aurat.

Ketika berada di kerumunan manusia, kita dikenal santun, menjaga pandangan, berakhlak terpuji dan yang senada dengan itu. Tapi ketika berada di depan layar internet, mata tak berkedip melihat foto dan video serta cerita-cerita yang tidak senonoh dan seterusnya. Wal ‘iyadzu billah.

Saudaraku..
Tanda ketiga dari riya’ adalah bertambah amalnya jika dipuji orang dan berkurang jika dicela orang lain. Artinya amalan yang kita ukir, orientasinya adalah meraih pujian, sanjungan dan iming-iming duniawi. Kita mengharap wajah lain selain wajah-Nya. Mendamba pujian lain selain pujian-Nya. Mengharap balasan lain selain balasan-Nya.

Ketika harapan kita terwujud, banyak yang membicarakan kebaikan kita. Tidak sedikit yang memuji keshalihan pribadi kita. Maka pada saat itu semangat kita beramal dan beribadah memuncak.

Namun ketika tiada orang yang memuji kita. Tidak ada respek dengan amal shalih kita. Yang kita dapatkan justru celaan, pandangan sinis dan yang senada dengan itu. Maka pada saat itu, kita lemas dan lunglai. Semangat beramal dan beribadah melemah dan bahkan mati sama sekali.

Saudaraku..
Itulah tiga tanda amalan yang terwarnai riya’. Mudah-mudahan kita bisa berbenah dan menghindarkan diri kita secara optimal dari ketiga-tiganya. Dan sudah saatnya kita tujukan semua amal baik, ketaatan dan pendakian puncak ubudiyah kita hanya mengharap pahala dan keridhaan-Nya semata. Walaupun bisa jadi ada yang tidak senang dengan kita. Walaupun ada yang membenci kita. Walaupun ada yang mencela dan bahkan memfitnah kita. Karena itu merupakan sunnah kehidupan dan menjadi asam garam dalam perjalanan menuju Allah swt. Allahu a’lam bishawab.

Riyadh, 11 Juli 2012 M

Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far
(http://www.facebook.com/profile.php?id=100000992948094)

Artikel Menarik Lainnya :

  1. 11 Tanda Mencintai Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wasallam Seseorang yang mengklaim bahwa dia mencintai seseorang akan lebih memilih yang dicintai dibanding semua orang, ia juga akan lebih memilih apa yang disukai oleh yang dicintainya, jika tidak demikian maka...
  2. Tanda-Tanda Kelurusan Niat Salah satu syarat diterimanya amal shalih kita adalah lurusnya niat hati kita dalam beramal, yakni mengharap ridha Allah SWT semata. Tiada mengharap wajah lain selain wajah-Nya. Tidak merindukan balasan kecuali...
  3. Riya’ dan Sum’ah Riya’ adalah lawan dari ikhlas, menampakkan ibadah dengan niat mencari pandangan manusia, sehingga pelakunya akan dipuji, dan dia mengharapkan pujian dan pengagungan dan takut kehilangan hal itu. Sum’ah adalah beramal...

Tags: , , ,

Category: Ibadah

About the Author ()

Leave a Reply

banner ad
banner ad

Switch to our mobile site