APA YANG KITA SESALKAN DALAM HIDUP?
Saudaraku..
Siapa yang tidak pernah mengalami penyesalan dalam hidup? Semua kita pasti pernah merasakannya. Walaupun kadarnya tidak sama dan warna penyesalannya tentu berbeda.
Ada yang menyesali kegagalannya dalam membangun usaha. Membina rumah tangga bahagia. Urung naik gaji dan promosi jabatan. Terhambat menyunting gadis tambatan hati. Belum berhasil menikahi wanita pribumi yang berhidung mancung. Gagal meraih prestasi puncak di dunia pendidikan. Nama baik tercemar karena ketergelinciran diri. Panen sawit dan karet mengalami penurunan. Orang tua kembali ke pangkuan-Nya sebelum kita memberikan hadiah terindah untuk keduanya. Dan seterusnya.
Belum pernah menyempurnakan I’tikaf 10 hari atau malam terakhir Ramadhan di Masjidil Haram. Tidak tekun dalam mendalami ilmu-ilmu syar’i, padahal waktu dan fasilitas terhampar di depan mata. Dan seterusnya.
Saudaraku..
Menyesali kekurangan diri kita. Menyadari kelemahan diri. Dan menetesnya air mata terhadap cita-cita dan mimpi dunia akherat yang belum terwujud. Bisa menjadi pelecut dan semacam pelontar, yang akan memicu dan melemparkan kita ke puncak prestasi dunia dan akherat.
Tapi jika penyesalan kita justru menghanyutkan kita pada kekecewaan yang berlebihan. Merasa harapan telah sirna. Pintu mimpi telah tertutup. Dan yang senada dengan itu. Maka berarti kita telah berputus asa dari rahmat Allah swt, yang merupakan bibit dari kekufuran. Ini merupakan model penyesalan yang akan melemparkan kita ke lembah kesengsaraan.
Saudaraku..
Para sahabat Nabi saw, juga biasa merasakan penyesalan. Yang tentunya membuahkan manfaat dan kebaikan dalam hidup.
Abdullah bin Mas’ud ra pernah bertutur:
“Tiada penyesalan yang lebih kurasakan dalam hidup, daripada saat ku saksikan matahari telah terbenam (di ufuk barat). Di mana jatah usiaku telah berkurang (pada petang itu), namun amal (shalih)-ku tidak bertambah.”
(kaifa tuthilu umrka al intaji, DR. Muhammad Ibrahim an Na’im).
Saudaraku…
Sudahkah kita menyesal hari ini? Dan apa yang kita sesalkan? Mudah-mudahan penyesalan yang menaburkan kebaikan dan membuahkan keceriaan untuk masa depan kita di sana. Seperti penyesalan Abdullah bin Mas’ud ra. Semoga. Wallahu a’lam bishawab.
Riyadh, 10 Agustus 2012 M
(http://www.facebook.com/profile.php?id=100000992948094)
Artikel Yang Berkaitan
Artikel Menarik Lainnya :
- MENGUKUR KEKHUSYUAN KITA DALAM SHALAT Saudaraku… Shalat yang kita tunaikan, paling kurang lima waktu dalam sehari semalam, sudahkah mencapai nilai sebuah kekhusyu’an? Sudahkah kita merasakan kehadiran-Nya dalam shalat kita. Yakinkah kita, bahwa saat itu kita...
- 3 WARNA CINTA DALAM HIDUP KITA Saudaraku… Syekh Mustafa Siba’i rahimahullah menyebutkan bahwa cinta memiliki 3 warna: Cinta Ilahi, cinta insani dan cinta hewani. Cinta Ilahi, lahir dari ketundukan seorang hamba kepada Zat yang dicintainya dan...
- MENSIKAPI KETERKEJUTAN YANG MENYAPA KITA Saudaraku.. Dalam hidup, pasti kita pernah mengalami berbagai warna keterkejutan, di luar dugaan dan perkiraan kita. Baik dalam skala pribadi maupun jama’ah. Yang demikian itu, jika tidak kita sikapi dengan...
- Indahnya Hidup Jika Kita Saling Menghormati Dan Menghargai Saudaraku… Siapa di antara kita yang tidak mengenal dua sahabat Nabi saw terkemuka, kesohor dan populer; Zaid bin Tsabit ra dan Abdullah bin Abbas ra?. Ketika kita mendengar nama Zaid...
- 5 Pelangi Hidup Kita Ada lima perkara yang menjadikan hidup kita senantiasa dihiasi pelangi: • Selalu mengukir ketaatan. • Senantiasa berada di jalur ilmu. • Menebarkan kebaikan. • Berbuat baik kepada karib kerabat dan...











