<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Inspirasi Islami</title>
	<atom:link href="http://inspirasiislami.com/index.php/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://inspirasiislami.com</link>
	<description>Media belajar dan berbagi Inspirasi Islami dan Positif untuk saling menguatkan dalam kebaikan untuk mencapai Ridho Ilahi</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Jan 2013 02:17:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>INI KHAUF UMAR, BAGAIMANA KHAUF KITA?</title>
		<link>http://inspirasiislami.com/index.php/2013/01/ini-khauf-umar-bagaimana-kauf-kita/</link>
		<comments>http://inspirasiislami.com/index.php/2013/01/ini-khauf-umar-bagaimana-kauf-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Jan 2013 02:17:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[Umar bin Khattab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inspirasiislami.com/?p=2204</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan bahwa, Amirul Mukminin Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu dulu biasa meminta anak-anak agar memohonkan ampunan kepada Allah untuk beliau seraya berkata: Kalian itu belum punya dosa! Bahkan diriwayatkan pula bahwa, beliau pernah berkata: Seandainya Allah Ta’ala menjamin bahwa, seluruh manusia akan masuk Surga kecuali satu orang, niscaya aku tetap takut dan khawatir jangan-jangan akulah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2205" class="wp-caption alignright" style="width: 298px"><a href="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2013/01/Umar.jpg"><img class="size-full wp-image-2205" title="Umar" src="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2013/01/Umar.jpg" alt="" width="288" height="175" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi dari Inet</p></div>
<p>Diriwayatkan bahwa, Amirul Mukminin Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu dulu biasa meminta anak-anak agar memohonkan ampunan kepada Allah untuk beliau seraya berkata: Kalian itu belum punya dosa!</p>
<p>Bahkan diriwayatkan pula bahwa, beliau pernah berkata: Seandainya Allah Ta’ala menjamin bahwa, seluruh manusia akan masuk Surga kecuali satu orang, niscaya aku tetap takut dan khawatir jangan-jangan akulah satu orang yang dikecualikan itu!</p>
<p>Dan satu lagi. Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu adalah satu-satunya sahabat yang diberitahu oleh Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang nama-nama kaum munafik di Madinah saat itu. Nah, karena saking tingginya rasa takut Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu terhadap penyakit hati yang paling menakutkan para sahabat, yakni kemunafikan, maka beliapun datang menemui sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, tentu setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, dan bertanya: “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasukkan namaku diantara nama-nama para munafikin yang beliau sebutkan kepadamu?”. Dan Hudzaifahpun menjawab dengan singkat: “Tidak!”.</p>
<p>Subhanallah! Begitu besar rasa khauf (takut dan khawatir) sahabat agung Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu kalau-kalau dosa beliau tidak diampunkan oleh Allah Ta’ala, sampai-sampai beliau merasa perlu meminta bantuan anak-anak agar turut beristighfar bagi beliau, dengan harapan istighfar mereka yang tentu belum berdosa itu lebih dikabulkan!</p>
<p>Nah, bagaimana dengan kita dengan dosa yang tentu saja jauh lebih banyak dan menumpuk serta amal ibadah pas-pasan yang pasti jauh lebih sedikit?! Berapa prosen kira-kira rasa khauf yang kita miliki dibandingkan dengan rasa khauf Sayyidina Umar? Apakah sampai 10 %-nya? Ataukah masih lebih rendah lagi?</p>
<p>Allahu Akbar! Betapa luar biasa kejujuran iman sang teladan ini. Begitu besar dan istimewa rasa takut beliau terhadap neraka, padahal beliau tentu sangat tahu bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana dalam banyak riwayat hadits shahih, telah menjamin, menegaskan dan memastikan bahwa, beliau adalah salah seorang ahli Surga!</p>
<p>Mari kita bandingkan dengan tingkat keimanan kita terhadap Surga dan Neraka. Mari kita raba hati kita masing-masing, seberapa kira-kira kadar rasa khauf/takut kita terhadap neraka Allah, dengan kondisi kita yang tanpa jaminan apapun untuk bisa masuk Surga dan selamat dari Neraka, kecuali hanya sekadar rasa raja’ (harapan) kepada luasnya rahmat Allah semata, jika dibandingkan dengan rasa khauf Sayyidina Umar seperti yang tergambar diatas, padahal beliau telah dijamin pasti masuk Surga?</p>
<p>Maa syaa-allah! Betapa ketat muraqabah, pengawasan dan penjagaan Sahabat Umar terhadap kemurnian iman beliau, padahal seluruh ulama Ahlussunnah Waljamaah sepanjang sejarah telah berijmak bahwa, beliau menempai peringkat ketiga diantara seluruh ummat ini dalam derajat keimanan, ketaqwaan dan kebaikan, setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Namun, meskipun demikian, ternyata beliau tetap saja sangat takut dan khawatir kalau-kalau iman dalam hati beliau masih tercampuri dan terjangkiti penyakit kemanunafikan. Sehingga untuk memastikannya, beliau sampai memaksa Sahabat Hudzaifah agar menjawab pertanyaan beliau seperti dalam riwayat dimuka, dimana itu berarti membuka sebagian rahasia Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang hanya diberikan kepada beliau (HUdzaifah) saja terkait nama-nama orang munafik. Oleh karena itu, setelah terpaksa menjawab pertanyaan Sahabat Umar tersebut, Sahabat Hudzaifah pun langsung membuat pernyataan bahwa, beliau tidak akan lagi menjawab pertanyaan serupa dari siapapun setelah itu!</p>
<p>Dan rasa takut yang demikian tinggi terhadap penyakit kemunafikan seperti yang ada pada Sayyidina Umar, memang merata dimiliki oleh para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Salah seorang ulama generasi tabi’in, Imam Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah pernah berkata: Aku telah bertemu (dan berguru) dengan tiga puluh orang diantara sahabat (Nabi) Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam), dan aku dapati masing-masing meraka sangat takut dan khawatir jika penyakit kemunafikan sampai menjangkiti hatinya!</p>
<p>Ya Allah! Jaga dan peliharalah iman di hati kami, murnikan dan jauhkanlah ia dari kemunafikan dan segala penyakit hati dan penyakit keimanan lainnya, serta berikanlah hidayah dan taufiq-Mu, ya Allah, kepada kami, agar kami mampu tetap istiqamah dalam upaya menapaki jalan Islam agama-Mu, mengikuti tuntunan sunnah Rasul-Mu shallallahu ‘alaihi wasallam, dan meneladani generasi terbaik diantara hamba-hamba-Mu, para sahabat radhiyallahu ‘anhum, para ulama salafus saleh dan khalafus saleh sekaligus, rahimahumullahu ajma’in!</p>
<p>Ya Allah! Kami sadar bahwa, kami tidak akan mampu mencapai derajat mereka. Tapi kami memiliki rasa cinta dan wala’ yang semoga tulus terhadap para teladan itu semuanya, tanpa kecuali dan tanpa pembeda-bedaan sama sekali (diantara ulama salafus saleh dan ulama khalafus saleh seluruhnya)! Maka, sebagaimana janji dan sabda Rasul-Mu shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa, “Engkau akan bersama yang engkau cintai” (HR. Muttafaq ‘alaih), pertemukanlah kami, ya Allah, dengan mereka, dan himpunlah kami bersama mereka, di bawah naungan rahmat-Mu, dan di dalam Surga-Mu! Aamiin</p>
<p>Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri. MA</p>
<p>Untuk mendapat cerita dan tausiah-tausiah  lainya. silahkan gabung ke: <a title="Fans Page" href="http://goo.gl/oKKB5" target="_blank"><strong>Ustadz</strong> <strong>Ahmad Mudzoffar Jufri </strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inspirasiislami.com/index.php/2013/01/ini-khauf-umar-bagaimana-kauf-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAHUN BARU = TAHUN PEMBARUAN IMAN!</title>
		<link>http://inspirasiislami.com/index.php/2013/01/tahun-baru-tahun-pembaruan-iman/</link>
		<comments>http://inspirasiislami.com/index.php/2013/01/tahun-baru-tahun-pembaruan-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jan 2013 13:30:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikroh]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[Iman]]></category>
		<category><![CDATA[tahun pembaharuan iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inspirasiislami.com/?p=2197</guid>
		<description><![CDATA[Kita sedang berada di penghujung tahun 2012 M. dan segera memasuki tahun baru 2013 M. Bagaimana seharusnya seorang muslim atau keluarga muslim secara khusus dan umat Islam secara umum menyikapi fenomena pergantian tahun seperti ini? Berikut beberapa catatan yang perlu diingat dan diperhatikan: Pertama: Mari memanfaatkan fenomena pergantian waktu : siang-malam, hari, pekan, bulan, tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2198" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2013/01/pembaharuan-iman.jpeg"><img class="size-medium wp-image-2198" title="pembaharuan iman" src="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2013/01/pembaharuan-iman-300x237.jpg" alt="" width="300" height="237" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi dari Inet</p></div>
<p style="text-align: justify;">Kita sedang berada di penghujung tahun 2012 M. dan segera memasuki tahun baru 2013 M. Bagaimana seharusnya seorang muslim atau keluarga muslim secara khusus dan umat Islam secara umum menyikapi fenomena pergantian tahun seperti ini? Berikut beberapa catatan yang perlu diingat dan diperhatikan:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama: Mari memanfaatkan fenomena pergantian waktu : siang-malam, hari, pekan, bulan, tahun dan seterusnya, yang merupakan bagian dari tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, untuk melakukan hal-hal yang semakin mendekatkan diri kita kepada Allah, seperti dengan banyak ber-tafakkur dan berdzikir mengingat muraqabatullah (pengawasan Allah) terhadap segala prilaku kita dalam hidup ini. Dan bukan justru untuk merayakannya dengan cara-cara yang berlebih-lebihan, penuh kesia-siaan, apalagi penuh dengan aksi “demonstrasi” dosa dan kemaksiatan, yang semakin membuat kita lupa, lalai dan menjauh dari Allah Dzat Pemilik waktu dan Pengatur pergantiannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran/kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang berakal “ (QS. Ali Imran [3] : 190).</p>
<p style="text-align: justify;">Dan seluruh bentuk hura-hura penyambutan tahun baru masehi, disamping adalah sikap meniru-niru kebiasaan buruk dan budaya negatif kaum serta umat lain, yang terlarang di dalam ajaran Islam, karena akan menghapus identitas keislaman ummat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, atau setidaknya memburamkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Barangsiapa yang meniru-niru/menyerupai suatu kaum (dalam hal-hal yang tak dibenarkan), maka berarti ia telah menjadi bagian dari kaum itu” (HR. Abu Dawud dan Ahmad).</p>
<p style="text-align: justify;">Disamping itu juga minimal merupakan tindakan sia-sia yang tidak penting dan tidak bermanfaat, yang menjadi indikasi rendahnya level keislaman ummat muslim yang melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Diantara tanda/bukti baiknya tingkat keberisalam seseorang, adalah dengan meninggalkan hal-hal yang tidak penting baginya” (HR. At-Tirmidzi dan lain-lain).</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua: Setiap orang Islam, dalam segala kondisi, situasi dan waktu, wajib senantiasa dengan bangga mempertahankan identitas keimanannya dan menunjukkan jati diri keislamannya. Oleh karenanya, hendaklah setiap keluarga muslim waspada dengan menjaga anggotanya agar tidak terbawa arus budaya jahiliyah dalam merayakan momen pergantian tahun masehi dan menyambut tahun baru seperti sekarang ini. Karena itu semua hanya akan menggerus akidah, melunturkan keimanan dan mengikis identitas keislaman.</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan jika mereka berpaling, maka katakanlah (dengan bangga) kepada mereka : &#8220;Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang Islam (yang berserah diri kepada Allah)&#8221;. (QS. Ali Imran : 64).</p>
<p style="text-align: justify;">“ Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata (dengan bangga): &#8220;Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Islam (yang berserah diri)?&#8221; (QS. Fushshilat : 33).</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga: Berdasarkan sunnah Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, tidak ada contoh aktifitas atau praktik amalan tertentu dalam menyambut pergantian tahun, baik tahun hijriyah apalagi tahun miladiyah (masehi). Namun tidak ada salahnya, jika momentum ini digunakan untuk hal-hal bermanfaat yang tidak bersifat ritual khusus, seperti untuk dijadikan sebagai terminal pengambilan ibrah dan pelajaran darinya, disamping dimanfaatksn untuk ber-muhasabah dan berinstropeksi diri. Karena setiap muslim harus selalu melakukan muhasabah diri, disamping setiap saat, juga yang bersifat harian, pekanan, bulanan, tahunan dan seterusnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Umar bin Al Khatthab radhiyallahu ’anhu berkata:<br />
”Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amalmu sebelum kamu ditimbang nanti dan bersiap-siaplah untuk hari menghadap yang paling besar (hari menghadap Allah)”, Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada sesuatupun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah “. (QS Al-Haaqqah : 18).</p>
<p style="text-align: justify;">Keempat: Pergantian tahun juga bisa dijadikan monen penting merenungkan apa-apa yang telah berlalu dalam hidup kita selama setahun ini. Tunjuannya minimal dua: disatu sisi untuk kita syukuri, dan disisi lain untuk kita istighfari.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, terhadap segala hal baik, positif dan konstruktif, serta beragam kenikmatan tak terhingga yang telah kita terima dan reguk dalam hidup selama setahun berlalu ini, semua itu wajib kita sykuri. Disertai harapan semoga Allah Ta’ala mempertahankannya dan bahkan menambah serta meningkatkannya bagi kita.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan untuk segala hal buruk, negatif, destruktif, dosa dan kemaksiatan yang juga tak terhitung dalam kurun usia setahun yang lalu ini, maka kita wajib bertobat darinya dengan taubatan nashuha dan beristighfar atasnya dengan istighfar yang sejujur-jujurnya dan setulus-tulusnya. Disertai harapan semoga Allah Ta’ala menutup tahun ini bagi kita semua dengan penerimaan yang baik terhadap tobat dan istighfar kita, serta membuka lembaran tahun baru dengan taufiq perubahan dan perbaikan diri. Aamiin!</p>
<p style="text-align: justify;">Kelima: Khusus untuk kaum muslimin yang sengaja melangkahkan kakinya keluar rumah tepat di malam tahun baru ini, baik yang berada di jalan-jalan raya atau di tempat manapun lainnya, dengan niat untuk turut berhura-hura secara sia-sia, berpersta pora secara tanpa makna, bahkan juga untuk berbuat maksiat dan dosa yang membawa petaka. Ya, untuk semua saudaraku yang bersusah payah begadang dan sengaja ingin melibatkan diri menjadi bagian dari “saksi-saksi palsu” atas pergantian tahun, silakan merenung dan bertanya pada diri sendiri: Untuk apa semua ini aku lakukan? Itukah cara tepat untuk mengekspresikan rasa syukurku atas segala nikmat yang telah kuterima, dan yang akan mendekatkan diriku kepada Allah Sang Penganugerah-nya? Begitukah model dan gayaku dalam menunjukkan tobat dan istighfarku atas segala dosa selama setahun lalu, yang dengannya aku berharap Tuhan-ku akan menerima tobatku dan mengampuniku? Ya, silakan masing-masing merenung dan bertanya kepada diri sendiri!</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun bagi para keluarga muslim yang tengah menghabiskan waktu akhir tahun dengan berlibur bersama keluarga, maka insya-allah itu positif-positif saja. Tentu dengan syarat harus diisi dengan segala hal dan aktifitas yang serba positif, konstruktif, baik dan bermanfaat, minimal yang mubah-mubah asalkan tidak sampai berlebihan!</p>
<p style="text-align: justify;">Keenam: Dengan berakhirnya tahun 2012 dan hadirnya tahun baru 2013, berarti telah bertambah satu tahun lagi dalam usia masing-masing kita. Dan sebagai kaum beriman, itu harus kita pahami dan sikapi sebagai bertambah banyaknya nikmat umur dalam hidup yang yang akan kita pertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah di akherat.</p>
<p style="text-align: justify;">“ Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba dari pengadilan Allah dihari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya, dihabiskan untuk apa, tentang ilmu pengetahuannya, apa yang telah diamalkan darinya, tentang hartanya dari mana didapat dan untuk apa dibelanjakan, serta tentang raganya, untuk apa digunakan “ (HR. At-Tirmidzi).</p>
<p style="text-align: justify;">Disisi lain bertambahnya umur juga berarti berkurangnya waktu dan kesempatan kita untuk beramal dan berkarya di dunia ini, sebagai investasi dan bekal bagi kehidupan akherat nanti, dan juga berarti waktu kita menjemput kematian yang pasti datang dan kembali ke haribaan Allah, telah semakin pendek dan dekat. Dan perenungan serta muhasabahnya disini adalah: Sudahkan kita benar-benar siap untuk menghadapinya?</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Hasyr [59]: 18).</p>
<p style="text-align: justify;">Ketujuh: Akhirnya, mari berazam bersama – dengan izin dan taufiq Allah – untuk menjadikan tahun baru 2013 M., sebagai tahun pembaruan iman, ilmu, amal, moral dan mentalitas yang lebih syar’i dan islami.</p>
<p style="text-align: justify;">Juga mari bertekad bersama – dengan izin dan taufiq Allah – untuk menjadikan tahun baru ini, sebagai tahun perubahan positif dan konstruktif bagi diri masing-masing kita secara khusus, bagi keluarga kita, bagi masyarakat kita, bagi bangsa kita, dan lebih luas lagi bagi ummat kita dimanapun berada. Sehingga dengannya insya-allah bangsa kita akan tampil lebih terhormat dan bermartabat, serta ummat kita akan lebih eksis sebagai ummat yang berjaya! Semoga! Aamiin!</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA<br />
Untuk mendapat cerita dan tausiah-tausiah  lainya. silahkan gabung ke: <a title="Fans Page" href="http://goo.gl/oKKB5" target="_blank"><strong>Ustadz</strong> <strong>Ahmad Mudzoffar Jufri </strong></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inspirasiislami.com/index.php/2013/01/tahun-baru-tahun-pembaruan-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MULIANYA MEMAAFKAN</title>
		<link>http://inspirasiislami.com/index.php/2013/01/mulianya-memaafkan/</link>
		<comments>http://inspirasiislami.com/index.php/2013/01/mulianya-memaafkan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jan 2013 12:24:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[Memaafkan]]></category>
		<category><![CDATA[Minta Maaf]]></category>
		<category><![CDATA[mulianya memaafkan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inspirasiislami.com/?p=2193</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku.. Siapa di antara kita yang tak pernah mengukir kesalahan dalam hidup. Siapa dari kita yang tak luput dari kekhilafan? Siapa di antara kita yang tak pernah terjerumus ke dalam dosa dan maksiat. Baik itu yang terkait dengan kekhilafan, kesalahan dan dosa kita kepada yang di Atas ataupun dosa dan kekhilafan yang kita perbuat terhadap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2195" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2013/01/maaf.jpg"><img class="size-medium wp-image-2195" title="maaf" src="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2013/01/maaf-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi dari Inet</p></div>
<p style="text-align: justify;">Saudaraku..<br />
Siapa di antara kita yang tak pernah mengukir kesalahan dalam hidup. Siapa dari kita yang tak luput dari kekhilafan? Siapa di antara kita yang tak pernah terjerumus ke dalam dosa dan maksiat. Baik itu yang terkait dengan kekhilafan, kesalahan dan dosa kita kepada yang di Atas ataupun dosa dan kekhilafan yang kita perbuat terhadap sesama makhluk yang singgah di atas bumi-Nya beberapa saat sebelum ajal menjemput kita.</p>
<p>Selain para nabi dan rasul yang ma&#8217;shum, tentu jawabannya tidak ada. Siapapun kita. Pejabat ataupun rakyat. Pemimpin maupun anggota masyarakat. Ustadz maupun santri. Guru maupun murid. Majikan, sopir maupun pembantunya. Manager perusahaan maupun karyawannya. Suami, istri maupun anak-anak. Pengasuh pesantren maupun santri-santarinya. Dan seterusnya. Selama kita berlabel &#8216;manusia&#8217;, maka kita tak akan luput dari salah dan khilaf. Yang disengaja maupun tidak. Yang besar maupun yang kecil. Karena manusia disebut dengan nama manusia karena &#8216;nisyanuhu&#8217; lantaran kealpaannya.</p>
<p>Namun hal itu bukan menjadi tameng dan alasan bagi kita untuk selalu melakukan kekhilafan dan membiarkan dosa terus kita lakukan berulang kali. Tanpa ada koreksi diri dan muhasabah. Tanpa ada kata istighfar dan mengakui kekurangan dan kelemahan diri.</p>
<p>Saudaraku..<br />
Jika kita memiliki iman walaupun seberat biji sawi dalam kalbu kita. Mempunyai pelita di dalam jiwa sepudar apapun. Maka jiwa kita akan tersengat saat dosa dan kesalahan kembali diperbuat oleh anggota tubuh kita. Hati akan merintih akibat kekhilafan yang kembali terukir dalam hidup.</p>
<p>Dosa dan maksiat adalah belenggu. Artinya kita seakan-akan terpenjara karenanya. Jiwa kita terkekang dan hati seperti menanggung beban yang sangat berat.</p>
<p>Dosa dan maksiat adalah kegelapan. Yang akan menghitamkan hari-hari kita dan menggelapkan langkah kaki kita menuju keridhaan Allah swt. Ia menciptakan awan mendung di langit hati kita.</p>
<p>Dosa dan maksiat adalah perampok. Yang akan mengambil dengan paksa pundi-pundi amal shalih yang telah kita himpun dan kumpulkan dengan susah payah.</p>
<p>Saudaraku..<br />
Dosa dan kesalahan yang kita perbuat untuk yang di Atas, karena kekurangan kita dalam mentaati rambu-rambu-Nya. Atau karena pelanggaran yang kita lakukan terhadap apa yang dilarang dan diharamkan-Nya. Mungkin cukup kita melantunkan kata istighfar dan bertaubat kepada-Nya.</p>
<p>Tapi kesalahan dan dosa terhadap sesama. Karena merampas hak-haknya. Atau menodai kehormatan dan kemuliaannya. Melukai hati dan menggores luka di dadanya. Menipu dan melakukan kebohongan terhadapnya. Mengusik ketenangan dan mengganggu kedamaiannya. Bermasalah dalam berinteraksi harta dengannya. Dan yang senada dengan itu.</p>
<p>Untuk dosa dan kesalahan model kedua ini, tidak cukup hanya dengan beristighfar dan bertaubat kepada-Nya. Tapi juga, meminta maaf dan meraih keridhaan orang yang telah kita lukai dan gelapkan hari-harinya.</p>
<p>Saudaraku..<br />
Adakah satu kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan kita saat mendapatkan kemaafan dan ampunan dari orang yang pernah kita berbuat dosa dan kesalahan terhadapnya? Orang yang pernah kita lukai perasaan dan hatinya? Mungkin tidak ada. Dan tak akan ada. Sebab ini terkait pula dengan masa depan kita di sana di akherat sana.</p>
<p>Arak-arakan awan terasa sirna dari langit hati kita. Beban yang sangat berat yang berada di pundak kita seperti terangkat dan tubuh pun teramat ringan untuk melangkah, melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Kita tak mampu menahan air mata menetes, pertanda kebahagiaan menggenangi ruang hati kita. Membuka kejernihan alam berpikir kita. Hari-hari kita seolah berpelangi. Cerah berseri seperti sapaan mentari pagi.</p>
<p>Saudaraku..<br />
Oleh karena itu, memaafkan kesalahan dan kekhilafan orang lain merupakan akhlak yang sangat terpuji. Ia memantulkan keistimewaan yang tiada tara.</p>
<p>• Memaafkan kesalahan orang lain merupakan tanda ketakwaan seseorang. Artinya semakin sering kita merealisasikannya dalam kehidupan kita, maka simat ketakwaan kita semakin tampak. Terlebih alasan kita memaafkan orang lain, bukan karena kita lemah tak berdaya. Tak mampu balas dendam. Tapi karena kelapangan dan ketulusan hati kita. Allah menyebut perihal sifat sosok muttaqin dalam firman-Nya, &#8220;..dan orang-orang yang memaafkan kesalahan orang lain.&#8221; Ali Imran: 134.</p>
<p>• Memaafkan kesalahan orang lain merupakan akhlak para nabi dan rasul. Artinya kita akan semakin dekat dengan akhlak mereka, jika kita mampu mengikuti kebiasaan mereka. Ketika terjadi penaklukan kota Mekkah, di mana kaum muslimin telah membebaskan kota itu dari kepercayaan nenek moyang; penyembah berhala. Tiada balas dendam yang diperbuat nabi terhadap masyarakat Quraisy yang dulu pernah mengusirnya. Menzaliminya dan seterusnya. Tapi nabi saw membebaskan mereka. Allah berfirman, &#8220;Dan sungguh kamu berbudi pekerti yang agung.&#8221; Al Qalam: 4.</p>
<p>• Memaafkan kesalahan orang, merupakan salah satu kunci masuk surga. Jika kita ingin masuk surga, milikilah kunci ini.</p>
<p>• Memaafkan kesalahan orang lain, akan membuahkan cinta Allah dan para makhluk-Nya di bumi.</p>
<p>• Memaafkan kesalahan orang lain, akan mengalirkan do&#8217;a-do&#8217;a tulus dari manusia. Dan seterusnya.</p>
<p>Saudaraku..<br />
Ku ucapkan jazakumullah khairan &#8220;semoga Allah membalas kebaikanmu dengan balasan terbaik&#8221; yang telah memaafkan kekhilafan diri ini. Kebaikan dan keindahan akhlakmu tak akan terlupakan dalam hidup.</p>
<p>Siapapun anda dan di manapun anda berada. Riyadh dan Arab Saudi. Maupun saudara-saudaraku di Dumay ini. Dengan ketulusan jiwa dan dari dasar hati yang paling dalam, kami mohon maaf atas segala salah dan khilaf. Yang disengaja maupun tidak. Yang besar maupu n kecil.</p>
<p>Semoga dengan kemaafanmu, langkah perjalanan kami ke tanah air menjadi ringan. Terarah dan pasti. Penuh rasa optimis dan dapat tersenyum menatap hari-hari yang akan dilalui. Di bawah naungan cinta dan ridha-Nya. Amien.</p>
<p>Jazakaumullah khairan, kalian adalah saudara dan sahabat-sahabatku yang terbaik. Waallahu a&#8217;lam bishawab.</p>
<p>Riyadh, 11 Desember 2012.</p>
<p>Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far<br />
(http://www.facebook.com/profile.php?id=100000992948094)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inspirasiislami.com/index.php/2013/01/mulianya-memaafkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KENDALA RASA NIKMAT IMAN</title>
		<link>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/kendala-rasa-nikmat-iman/</link>
		<comments>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/kendala-rasa-nikmat-iman/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2012 09:11:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Aqidah]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[KENDALA RASA NIKMAT IMAN]]></category>
		<category><![CDATA[nikmat iman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inspirasiislami.com/?p=2189</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa kebanyakan kita sangat tidak mudah untuk bisa merasakan nikmatnya keimanan, lezatnya ketaatan, khusyuknya peribadahan dan manisnya amal kebajikan? Umumnya karena level keberagamaan yang masih bersifat setengah-setengah, atau bahkan lebih rendah lagi. Level dan sifat keberagamaan mayoritas kita umumnya masih berada di tataran seremoni (semangat peringatan-peringat an), atau formalitas, atau maksimal wacana pemikiran teoritis belaka. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2190" class="wp-caption alignright" style="width: 308px"><a href="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/12/nikmat-iman.jpg"><img class="size-medium wp-image-2190" title="nikmat iman" src="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/12/nikmat-iman-298x300.jpg" alt="" width="298" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi dari Inet</p></div>
<p style="text-align: justify;">Mengapa kebanyakan kita sangat tidak mudah untuk bisa merasakan nikmatnya keimanan, lezatnya ketaatan, khusyuknya peribadahan dan manisnya amal kebajikan? Umumnya karena level keberagamaan yang masih bersifat setengah-setengah, atau bahkan lebih rendah lagi.</p>
<p>Level dan sifat keberagamaan mayoritas kita umumnya masih berada di tataran seremoni (semangat peringatan-peringat</p>
<div style="text-align: justify;">an), atau formalitas, atau maksimal wacana pemikiran teoritis belaka. Padahal keimanan dan keislaman sejati itu seharusnya benar-benar bisa merasuk ke hati, menyatu dengan jiwa, dan mewujud dalam rasa cinta dan ridha nan nyata.</p>
<p>Agar bisa merasakan nikmatnya amal saleh dan khusyuknya ibadah, kita memang harus beragama setotal mungkin. Dan syarat mutlaknya adalah, hawa nafsu harus mampu ditundukkan dan dikendalikan. Karena selama masih ada hawa nafsu tertentu yang secara permanen atau hampir permanen selalu diperturutkan, selama itu pula sikap ogah-ogahan akan senantiasa menyertai pelaksanaan setiap amal saleh dan penunaian setiap ibadah. Karena umumnya ketaatan itu memang masih disikapi sebagai beban berat yang harus ditanggung dan dilepaskan, dan belum dirasakan sebagai kebutuhan hidup yang dirindukan rasa nikmatnya dan buah lezatnya.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (secara total), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu (QS. Al-Baqarah [2]: 208).</p>
<p>Dan Baginda Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Tak sempurna iman seseorang dari kalian sampai hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaran yang aku bawa (Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitab Al-Arba’in An-Nawawiyah: Hadits hasan shahih yang kami riwayatkan dalam kitab Al-Hujjah dengan sanad yang shahih).<br />
Dalam hadits lain, Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda (yang artinya): Telah bisa merasakan nikmat/lezatnya iman, orang yang telah ridha terhadap Allah sebagai Tuhan (nya), ridha terhadap Islam sebagai agama (nya) dan ridha terhadap Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) sebagai rasul (nya) (HR. Muslim dari Al-‘Abbas radhiyallahu ‘anhu).</p>
<p>Dan di dalam riwayat yang lain lagi Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Ada tiga hal dimana jika ketiganya ada dalam diri seseorang, maka ia bisa merasakan manisnya iman, yaitu: 1). Jika Allah dan Rasul-Nya telah ia cintai melebihi kecintaannya terhadap selain keduanya; 2). Jika ia mencintai seseorang benar-benar hanya karena Allah; dan 3). Jika ia benci untuk kembali kepada kekufuran seperti kebenciannya andai ia dilemparkan ke dalam api (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).</p>
<p>Jadi rumusnya adalah: Tak memperturutkan hawa nafsu/menundukkan dan mengendalikannya = tak mengikuti langkah-langkah syetan = beriman dengan sepenuh rasa cinta hati dan ridha jiwa = berislam secara total = manisnya beriman, nikmatnya berislam dan lezatnya berketaatan!</p>
<p>Sedangkan rumus sebaliknya ialah: memperturutkan hawa nafsu = mengikuti langkah-langkah syetan = beriman sebatas teori logika, tak turun ke hati, dan tak sampai menjiwai = berislam secara setengah-setengah = beriman sebagai beban, berislam sebagai tanggungan dan berketaatan serasa menjenuhkan!</p></div>
<div style="text-align: justify;">Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA<br />
Untuk mendapat cerita dan tausiah-tausiah  lainya. silahkan gabung ke: <a title="Fans Page" href="http://goo.gl/oKKB5" target="_blank"><strong>Ustadz</strong> <strong>Ahmad Mudzoffar Jufri </strong></a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/kendala-rasa-nikmat-iman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MENUNGGU, TAK SELALU MEMBOSANKAN</title>
		<link>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/menunggu-tak-selalu-membosankan/</link>
		<comments>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/menunggu-tak-selalu-membosankan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Dec 2012 08:16:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikroh]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[MENUNGGU]]></category>
		<category><![CDATA[Menunggu buah hati]]></category>
		<category><![CDATA[TAK SELALU MEMBOSANKAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inspirasiislami.com/?p=2186</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku.. Kata sebagian orang, &#8216;menunggu adalah pekerjaan yang membosankan&#8217;. Apakah ungkapan ini benar adanya? Ungkapan ini tidak selalu benar. Justru kita rasakan mengasyikan dan indah. Bahkan di sana ada paket pahala yang berlimpah ruah, yang Allah sediakan untuk kita. Selama kita memiliki iman dan keyakinan yang kuat. Tidak lemah apalatah lagi rapuh dan ringk ih. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2187" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/12/wait.gif"><img class="size-medium wp-image-2187" title="wait" src="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/12/wait-300x200.gif" alt="" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi dari Inet</p></div>
<p style="text-align: justify;">Saudaraku..<br />
Kata sebagian orang, &#8216;menunggu adalah pekerjaan yang membosankan&#8217;. Apakah ungkapan ini benar adanya? Ungkapan ini tidak selalu benar. Justru kita rasakan mengasyikan dan indah. Bahkan di sana ada paket pahala yang berlimpah ruah, yang Allah sediakan untuk kita. Selama kita memiliki iman dan keyakinan yang kuat. Tidak lemah apalatah lagi rapuh dan ringk</p>
<div style="text-align: justify;">ih. Selama ada ikhtiyar dan tawakkal kepada-Nya.</p>
<p>Para pejuang kebenaran, yang istiqamah menegakkan kalimat-Nya di permukaan bumi. Menularkan keshalihan pribadi kepada orang-orang di sekitarnya. Berbagi manfaat bagi sesama. Mengeluarkan umat dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya iman dan ilmu. Menyelamatkan manusia dari panasnya api neraka. Membangkitkan mereka dari segala warna keterpurukan. Maka menunggu datangnya kemenangan dan pertolongan Allah swt tidaklah membosankan. Karena kita yakin pertolongan-Nya terasa dekat dan pasti. &#8220;Ingatlah, bahwa sesungguhnya pertolongan Allah itu teramat dekat.&#8221; Al Baqarah: 214.</p>
<p>Bagi kita yang hidup dalam kesulitan, kesusahan dan terhimpit beban hidup yang berat. Menunggu datangnya jalan keluar dan solusi bagi persoalan hidup yang menyapa kita, bukanlah pekerjaan yang membosankan. Selama kita jadikan sabar dan shalat sebagai penolong kita.</p>
<p>Menunggu kran-kran rezki terbuka untuk kita, juga bukan pekerjaan yang membosankan. Meskipun saat ini kran-kran tersebut terasa tersumbat. Selama kita bertawakkal dan menjadikan takwa sebagai bekalan hidup kita. Karena janji-Nya pasti terwujud. Dia akan memberikan karunia dari pintu yang tak terduga-duga.</p>
<p>Bagi kita yang sedang menunggu hadirnya arjuna yang mengikuti petunjuk langit. Atau bidadari dunia yang selalu membumi. Juga bukan pekerjaan yang membosankan. Selama kita mengisi hari-hari dan malam-malam kita dengan istighfar dan perbaikan diri. Selama kita ridha dengan garis ketetapan-Nya. Ia pasti akan datang menghampiri kita. Karena jadwal dan waktunya telah Dia tentukan di Lauhil Mahfuzh. Tidak akan meleset. Dan tak mungkin berpindah ke pelukan orang lain.</p>
<p>Bagi pasutri, yang sedang menunggu kehadiran sang buah hati. Merupakan pekerjaan yang sangat mulia. Selama syukur dan sabar kita jadikan sebagai kendaraan kita. Selama tertanam di sanubari kita tentang ke-Mahakuasaan-Nya.</p>
<p>Saudaraku..<br />
Apa yang sedang kita tunggu hari ini? Dan apa yang kita risaukan? Ingatlah bahwa janji-Nya pasti terbukti. Selama kita membuktikan kesetiaan kita dalam mentaati rambu-rambu-Nya.</p>
<p>Ada sahabat yang berbisik di telinga ini. Bahwa ia pun sedang menunggu. Bukan menunggu kelahiran anaknya. Bukan pula menunggu kenaikan gajinya dan seterusnya. Tapi ia sedang menunggu hari kepulangannya ke tanah air. Yang tinggal menghitung hari. Siapakah dia? Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang. Wallahu a&#8217;lam bishawab.</p>
<p>Riyadh, 5 Desember 2012.</p></div>
<div style="text-align: justify;">Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far<br />
(http://www.facebook.com/profile.php?id=100000992948094)</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/menunggu-tak-selalu-membosankan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PARAMETER SEBUAH KEJUJURAN (AMANAH)</title>
		<link>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/parameter-sebuah-kejujuran-amanah/</link>
		<comments>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/parameter-sebuah-kejujuran-amanah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Dec 2012 03:29:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikroh]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[amanah]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[PARAMETER SEBUAH KEJUJURAN (AMANAH)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inspirasiislami.com/?p=2180</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku.. Suatu hari seseorang pernah memberi kesaksian di hadapan Umar bin Khattab ra seraya berkata, &#8220;Sesungguhnya si Fulan itu adalah seorang yang jujur.&#8221; Umar berkata, &#8220;Apakah engkau pernah menemaninya dalam sebuah perjalanan?.&#8221; Ia berkata, &#8220;Belum.&#8221; &#8220;Apakah engkau pernah berinteraksi dengannya dalam masalah keuangan?.&#8221; Kata Umar selanjutnya. Ia menjawab, &#8220;Belum.&#8221; &#8220;Apakah engkau pernah memberi kepercayaan (amanah) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2181" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><a href="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/12/amanah.jpg"><img class="size-medium wp-image-2181" title="amanah" src="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/12/amanah-240x300.jpg" alt="" width="240" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi dari Inet</p></div>
<p style="text-align: justify;">Saudaraku..<br />
Suatu hari seseorang pernah memberi kesaksian di hadapan Umar bin Khattab ra seraya berkata, &#8220;Sesungguhnya si Fulan itu adalah seorang yang jujur.&#8221;</p>
<p>Umar berkata, &#8220;Apakah engkau pernah menemaninya dalam sebuah perjalanan?.&#8221;</p>
<p>Ia berkata, &#8220;Belum.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah engkau pernah berinteraksi dengannya dalam masalah keuangan?.&#8221; Kata Umar selanjutnya.</p>
<div style="text-align: justify;">
Ia menjawab, &#8220;Belum.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apakah engkau pernah memberi kepercayaan (amanah) kepadanya?.&#8221; Kata Umar.</p>
<p>Ia menjawab, &#8220;Belum.&#8221;</p>
<p>Umar menyimpulkan, &#8220;Berarti (sejatinya) engkau belum mengenalnya. Barangkali penilaianmu ini berdasarkan pada kebiasaannya ruku&#8217; dan sujud di masjid.&#8221;<br />
(Mawa&#8217;izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).</p>
<p>Saudaraku..<br />
Dari dialog antara Amirul mukminin; Umar bin Khattab ra dan salah seorang dari rakyatnya ini dapat kita petik beberapa hikmah dan pelajaran. Yang dapat kita jadikan lentera dalam hidup kita. Di antaranya:</p>
<p>• Hendaknya seorang pemimpin atau pemilik kekuasaan atau wakil rakyat menjaga kedekatan dan hubungan yang mesra dan harmonis dengan rakyat dan masyarakatnya. Tidak menjaga jarak, apalagi menjauhi rakyatnya. Juga tidak merapat dan memihak kepada lapisan tertentu dan menjauhi serta menohok lapisan masyarakat yang lain. Karena seluruhnya menjadi tanggung jawabnya di hadapan Allah swt kelak.</p>
<p>• Di antara bukti pemimpin yang adil dan amanah adalah ia tidak memilih wakil, pegawai dan bawahannya, melainkan orang-orang yang jujur dan amanah pula. Walaupun sebelumnya mereka tidak dikenal publik dan tidak memiliki pengikut atau fans yang memadai.</p>
<p>• Sering kali kita menilai keshalihan seseorang dan mengukur sebuah amanah dan kejujurannya dari tampilan luar semata. Mungkin kita melihatnya rajin shalat, khusyu&#8217; dalam berdo&#8217;a, menghidupkan shalat-shalat sunnah di masjid dan yang senada dengan itu. Padahal itu semua terkait dengan yang di Atas. Sejatinya, nilai amanah dan kejujuran itu diukur dari interaksi kita dan kelurusan muamalah kita dengan yang di bawah. Di atas bumi. Yakni, manusia di sekitar kita.</p>
<p>• Dalam safar (perjalanan) akan tampak watak dasar dan kepribadian asli kita. Apakah kita tipe orang yang egois, penyabar, suka melayani yang lain, dan sifat-sifat lainnya. Artinya putih atau hitamnya jejak kita, terlihat ketika kita berada dalam perjalanan. Jika kita berkunjung ke wilayah timur India, tepatnya di West Bengal. Kita temukan di kaca depan bis (depan supir) di sana tertulis satu ungkapan &#8220;Khuluquka ta&#8217;arufuk&#8221; yang artinya akhlakmu adalah identitasmu. Maksudnya keberadaan kita di bis hanya beberapa menit atau beberapa jam saja. Tapi jika kita mampu menampilkan kepribadian yang memikat, maka kita akan dikenang oleh orang lain. Sebaliknya budi pekerti yang tercela dalam bergaul dengan orang lain, akan melahirkan jejak-jejak keburukan pula.</p>
<p>• Pengalaman hidup mengajari kita, bahwa banyak orang yang prestasi ibadahnya di hadapan manusia sangat mengagumkan. Tapi dalam interaksi harta, tidak sedikit meninggalkan catatan buruk di hati banyak orang. Misalnya; meremehkan persoalan hutang. Bahkan sebagiannya terkesan, tidak mau melunasi hutang-hutangnya dan cuek bebek dengan tanggungan-tanggungannya terhadap orang lain. Padahal dalam do&#8217;a pagi dan petang, Nabi saw menyandingkan hutang dengan penjajahan, &#8220;wa audzubika min ghalabatin daini wa qahrir rijal&#8221; (aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan dominasi orang lain). Artinya hutang sama saja dengan penjajahan. Orang yang rela dirinya terkungkung dalam hutangnya, berarti ia rela berada dalam jajahan orang lain. Terlebih hutang yang tak terbayarkan sampai kita menghadap Allah swt, maka ia akan menjadi penghalang bagi kita masuk ke dalam surga. Nabi menegaskan, &#8220;Orang yang mati syahid akan terampuni seluruh dosanya terkecuali hutang, hingga ia dibayarkan.&#8221; HR. Ahmad.</p>
<p>• Pemandangan umum yang sering kita saksikan pula bahwa banyak titipan yang disia-siakan dan tidak sedikit amanah yang diabaikan. Jika amanah itu berupa barang dan harta benda, maka ia akan berkurang. Karena orang yang diberi amanah akan memanfaatkan titipan tersebut semaksimal mungkin. Kalau tidak kita katakan, melampaui batas kewajaran. Sebaliknya, jika amanah itu berupa ucapan. Atau titipan omongan. Maka yang diberi amanah juga melebarkan dan mengembangkan amanah tersebut sehingga menjadi issu besar dan menghebohkan.</p>
<p>• Jadi nilai sebuah amanah atau makna kejujuran, diukur dari seberapa besar kita mampu menjaga identitas kita dalam sebuah perjalanan atau safar. Keamanahan kita dalam berinteraksi harta dan kelurusan kita dalam menjaga barang titipan orang lain yang dipercayakan kepada kita.</p>
<p>Saudaraku..<br />
Sudahkah kita tergolong orang-orang yang amanah dan jujur? Semoga demikian adanya. Amien. Wallahu a&#8217;lam bishawab.</p>
<p>Riyadh, 28 November 2012 M<br />
Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far<br />
(http://www.facebook.com/profile.php?id=100000992948094)</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/parameter-sebuah-kejujuran-amanah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>AIR MATA YANG MENETES KARENA TAKUT KEPADA ALLAH</title>
		<link>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/air-mata-yang-menetes-karena-takut-kepada-allah/</link>
		<comments>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/air-mata-yang-menetes-karena-takut-kepada-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Dec 2012 03:10:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Amru bin Ash]]></category>
		<category><![CDATA[AIR MATA YANG MENETES KARENA TAKUT KEPADA ALLAH]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inspirasiislami.com/?p=2174</guid>
		<description><![CDATA[Saudaraku.. Abdullah bin Amru bin Ash ra pernah berkata: &#8220;Setetes air mata yang jatuh di wajahku lantaran takut kepada Allah, lebih aku sukai daripada sedekah dengan seribu dirham.&#8221; (Mawa&#8217;izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami). Saudaraku.. Pernahkah air mata kita menetes membasahi wajah lantaran takut kepada Allah? Lantaran takut siksa-Nya? Lantar an mengenang dosa-dosa yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2175" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/12/muhasabah-diri.jpg"><img class="size-medium wp-image-2175" title="muhasabah diri" src="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/12/muhasabah-diri-300x195.jpg" alt="" width="300" height="195" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi dari Inet</p></div>
<p style="text-align: justify;">Saudaraku..<br />
Abdullah bin Amru bin Ash ra pernah berkata:<br />
&#8220;Setetes air mata yang jatuh di wajahku lantaran takut kepada Allah, lebih aku sukai daripada sedekah dengan seribu dirham.&#8221;<br />
(Mawa&#8217;izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).</p>
<p>Saudaraku..<br />
Pernahkah air mata kita menetes membasahi wajah lantaran takut kepada Allah? Lantaran takut siksa-Nya? Lantar</p>
<div style="text-align: justify;">an mengenang dosa-dosa yang pernah kita perbuat dalam hidup ini. Karena kita sadar dengan kekurangan-kekurangan kita dalam menjalankan perintah agama. Karena banyaknya larangan yang belum mampu kita jauhi secara sempurna. Karena begitu mudahnya kita tergelincir dan terperosok di jurang dosa dan kesalahan.Kita memang terkadang menangis, tapi bukan karena takut kepada Allah. Bukan pula karena menghayati ayat-ayat-Nya. Bukan karena takut ancaman dan siksa-Nya di neraka sana. Bukan juga karena merindukan surga dengan segala kenikmatannya.</p>
<p>Saudaraku..<br />
Kadang kita menangis karena gagal dalam membangun usaha. Karena hasil panen kebun karet dan sawit yang jauh dari harapan kita. Lantaran tidak tersedianya bahan makanan untuk esok hari. Di PHK dari perusahaan bonafid. Diberhentikan di tengah jalan dari anggota dewan. Kalah dalam Pilkada padahal seluruh harta benda milik kita telah terkuras habis. Gagal mempersunting gadis tambatan hati. Kepergian orang-orang dekat. Bencana alam yang membawa pergi harta milik kita. Kapal keluarga yang karam tenggelam di laut merah. Gagal mendidik anak keturunan. Hutang yang semakin mencekik leher. Disingkirkan oleh atasan kita, karena ia tak menyukai kita. Dan seterusnya.</p>
<p>Jika karena hal tersebut di atas yang membuat kita meneteskan air mata. Itu artinya kita memiliki kepribadian yang lemah, rapuh dan ringkih. Kita bermental anak-anak walaupun usia kita sudah mulai merambat senja. Manja dan cengeng dalam menjalani hidup. Kerdil di mata manusia dan hina dalam pandangan Allah swt.</p>
<p>Saudaraku..<br />
Menangis karena takut akan siksa-Nya, di tengah malam atau di penghujungnya. Sewaktu manusia terlelap di alam mimpi. Ketika kita jauh dari penglihatan manusia. Itulah amalan rahasia antara kita dengan Rabb pencipta kita.</p>
<p>Itulah tetesan air mata pertanda ketulusan kita dalam mendaki puncak ubudiyah. Sebagai bukti kesungguhan kita dalam meraih surga-Nya dan takut terhadap siksa-Nya. Itulah air mata yang akan menyelamatkan kita di sana. Air mata yang mengalir dari keinsafan kita.</p>
<p>Itulah air mata yang lebih baik dari sedekah seberapa pun jumlah harta yang kita sedekahkan. Karena sedekah, adalah suatu amalan yang berhubungan dengan orang lain. Berbeda dengan air mata yang mengalir di tengah malam. Hanya Dia yang melihatnya. Karena Dia air mata ini tercipta.</p>
<p>Saudaraku..<br />
Air mata ini akan terhenti mengalir. Atau bahkan tak akan menetes sama sekali. Lantaran dosa dan maksiat yang telah mengelapkan hati kita. Ketika hati telah menjadi gelap, maka darimana air mata akan membasahi wajah kita. Padahal Rasulullah saw pernah menjamin:</p>
<p>&#8220;Mata yang menangis di tengah keheningan malam karena takut kepada Allah, tidak akan tersentuh api neraka.&#8221; Hadits hasan riwayat Tirmidzi.</p>
<p>Ya Rabbana, karuniakanlah kepada kami tetesan air mata yang akan menjauhkan kami dari sentuhan api neraka-Mu. Air mata yang bersimbah lanataran takut akan siksa-Mu.&#8221; Amien. Wallahu a&#8217;lam bishawab.</p>
</div>
<div style="text-align: justify;">Sumber:Status Ustadz Abu Ja’far<br />
(http://www.facebook.com/profile.php?id=100000992948094)</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/air-mata-yang-menetes-karena-takut-kepada-allah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MUTIARA HIKMAH IMAM ASY-SYAFI’I rahimahullah</title>
		<link>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/mutiara-hikmah-imam-asy-syafii-rahimahullah/</link>
		<comments>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/mutiara-hikmah-imam-asy-syafii-rahimahullah/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Dec 2012 02:36:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikroh]]></category>
		<category><![CDATA[Tausiah]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[IMAM ASY-SYAFI’I rahimahullah]]></category>
		<category><![CDATA[MUTIARA HIKMAH IMAM ASY-SYAFI’I rahimahullah]]></category>
		<category><![CDATA[untaian nasihat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inspirasiislami.com/?p=2170</guid>
		<description><![CDATA[Berikut ini kutipan beberapa mutiara hikmah dari Imam agung Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah: 1. Aku yakin bahwa, jatah rezekiku (disisi Allah) tidak akan diambil oleh orang lain, maka hatikupun selalu tenang karenanya. 2. Ilmu bukanlah apa yang telah dihapal. Tapi ilmu ialah apa yang telah memberi manfaat! 3. Saat memaafkan dan t [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2171" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/12/Untaian-Nasehat-Imam-Asy-Syafii.jpg"><img class="size-medium wp-image-2171" title="Untaian Nasehat Imam Asy Syafi'i" src="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/12/Untaian-Nasehat-Imam-Asy-Syafii-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi dari Inet</p></div>
<p style="text-align: justify;">Berikut ini kutipan beberapa mutiara hikmah dari Imam agung Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i rahimahullah:</p>
<p>1. Aku yakin bahwa, jatah rezekiku (disisi Allah) tidak akan diambil oleh orang lain, maka hatikupun selalu tenang karenanya.</p>
<p>2. Ilmu bukanlah apa yang telah dihapal. Tapi ilmu ialah apa yang telah memberi manfaat!</p>
<p>3. Saat memaafkan dan t</p>
<div style="text-align: justify;">idak mendendam terhadap siapapun, berarti aku telah merehatkan diriku dari derita permusuhan (yang berkepanjangan).4. Orang yang jujur dalam rasa ukhuwahnya, pasti akan menerima cacat saudaranya, menutup kekurangannya dan memaafkan kesalahannya.5. Kala hatiku mengeras dan jalan hidupku serasa sempit, aku jadikan harapku sebagai tangga menuju ampunan-Mu.<br />
Dosaku terasa begitu besar/berat bagiku. Tapi saat kusandingkan dengan ampunan-Mu, Tuhan-ku, tetaplah ampunan-Mu jauh lebih besar.</p>
<p>6. Orang paling dzalim terhadap dirinya adalah yang mau merendahkan diri kepada (selain Allah) yang tidak memuliakannya, dan mengharap cinta (selain Allah pula) yang tidak bisa memberinya manfaat.</p>
<p>7. Ada seseorang datang kepadaku untuk memberi tahuku tentang suatu hadits yang telah kutahu sebelum ia dilahirkan oleh ibunya, tapi aku diam saja, demi mengagungkan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam).</p>
<p>8. Tiadalah aku berdebat dengan seorangpun, kecuali aku justru berharap agar kebenaran bisa tampil melalui lesannya<br />
9. Srigala tidak memakan daging srigala lain. Tapi kita (manusia) justru saling memakan satu sama lain tanpa tedeng aling-aling (secara terang-terangan).</p>
<p>10. Bila engkau adalah pemilik hati yang qanaah (ridha dan merasa cukup dengan pembagian Allah), maka engkau dan konglomerat penggenggam harta kekayaan dunia adalah sama.</p>
<p>Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA<br />
Untuk mendapat cerita dan tausiah-tausiah  lainya. silahkan gabung ke: <a title="Fans Page" href="http://goo.gl/oKKB5" target="_blank"><strong>Ustadz</strong> <strong>Ahmad Mudzoffar Jufri </strong></a></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/12/mutiara-hikmah-imam-asy-syafii-rahimahullah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KALENDER HIJRIYAH DAN IDENTITAS UMMAT</title>
		<link>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/11/kalender-hijriyah-dan-identitas-ummat/</link>
		<comments>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/11/kalender-hijriyah-dan-identitas-ummat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Nov 2012 13:20:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikroh]]></category>
		<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[KALENDER HIJRIYAH]]></category>
		<category><![CDATA[muharram]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inspirasiislami.com/?p=2165</guid>
		<description><![CDATA[Pergantian tahun Hijriyah dari 1433 ke 1434 baru saja berlalu. Banyak yang memperingati awal tahun baru Hijriyah 1 Muharram 1434 dengan beragam cara dan acara. Sebagai sebuah semangat, hal itu bisa saja positif dan ditolerir. Tentu saja asalkan tidak berlebihan dan apalagi sampai melanggar. Tapi yang lebih penting dan mendasar te rkait tahun Hijriyah, sebenarnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2166" class="wp-caption alignright" style="width: 280px"><a href="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/11/muharam.gif"><img class="size-medium wp-image-2166" title="muharam" src="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/11/muharam-300x225.gif" alt="" width="270" height="203" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi dari Inet</p></div>
<p style="text-align: justify;">Pergantian tahun Hijriyah dari 1433 ke 1434 baru saja berlalu. Banyak yang memperingati awal tahun baru Hijriyah 1 Muharram 1434 dengan beragam cara dan acara. Sebagai sebuah semangat, hal itu bisa saja positif dan ditolerir. Tentu saja asalkan tidak berlebihan dan apalagi sampai melanggar. Tapi yang lebih penting dan mendasar te</p>
<div style="text-align: justify;">rkait tahun Hijriyah, sebenarnya bukanlah peringatan dan perayaannya, melainkan justru bagaimana umat ini tersadarkan agar tetap dan senantiasa bangga dengan kalender islaminya tersebut. Karena apa arti semua gegap gempita peringatan dan perayaan, bila setelahnya bahkan banyak yang tidak tahu apa nama bulan selepas Muharram ini misalnya?</p>
<p>Soal kalender Hijriyah adalah soal identitas Umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang abai dan tak peduli terhadapnya bisa saja berarti telah abai dan tidak peduli terhadap identitas agamanya. Padahal banyak sekali faktor penegas betapa kuat kaitan kalender Hijriyah ini dengan aqidah, ibadah dan hukum syariah Islam, serta sejarah umatnya. Sehingga karenanya, setiap muslim seharusnya selalu bangga dalam menggunakan kalender ini. Tidak seperti faktanya selama ini, dimana umumnya kaum muslimin seolah-olah telah melupakan kalender Hijriyah ini, dan tidak menggunakan serta memerlukannya kecuali saat hadir bulan puasa Ramadhan dan bulan haji Dzulhijah saja, mungkin ditambah satu lagi kala terjadi pergantian tahun seperti yang baru saja terlewati, karena diingatkan oleh adanya peringatan dan perayaan terhadapnya atau lebih-lebih karena ditetapkan sebagai hari libur.</p>
<p>Dan diantara faktor penguat dan penegas bahwa kalender Hijriyah adalah kalender Islam dan Ummat Islam, adalah karena nama dan penghitungan tahun kalender ini ditetapkan oleh Amirul Mukminin Umar bin Al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu dengan kesepakatan para sahabat semuanya, berdasarkan salah satu peristiwa paling bersejarah dan paling agung di dalam perjalanan dakwah Islam, yakni hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama para sahabat Beliau dari kota Mekkah ke kota Medinah, yang semula bernama Yatsrib. Dimana hijrah agung tersebut telah menjadi tonggak utama kemenangan perjuangan dakwah Islam pertama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallah.</p>
<p>Bahkan penetapan jumlah dua belas bulan selama setahun dalam kalender Hijriyah yang penghitungannya berdasar peredaran bulan dan bukan peredaran matahari, adalah oleh Allah Ta’ala langsung, pada waktu penciptaan langit dan bumi. Dimana Allah pula yang menetapkan adanya empat bulan haram (mulia/suci) diantaranya. Yakni bulan Rajab (bulan ke-7), Dzulqa’dah (bulan ke-11), Dzulhijah (bulan ke-12) dan Muharram (bulan ke-1).</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya bilangan bulan (dalam setahun) di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus. Maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu… (QS. At-Taubah: 36). Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda (yang artinya): “Jaman telah berputar seperti keadaannya semula kala Allah menciptakan langit dan bumi. Dimana dalam satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci/mulia). Tiga bulan berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Dan (satu lagi yang terpisah) bulan Rajab … “ (HR. Al-Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Selanjutnya pelaksanaan ibadah-ibadah asasi di dalam ajaran Islam juga sangat terkait erat dengan penghitungan waktu menurut kalender Hijriyah. Seperti penentuan syarat haul (berlalunya setahun kepemilikan nishab harta) dalam pengeluaran zakat, penunaian puasa fardhu di bulan Ramadhan, disamping juga berbagai puasa sunnah, pelaksanaan ibadah haji ke Tanah Suci di bulan Dzulhijjah, dan lain lain.</p>
<p>Selain itu, beberapa hukum syariah yang mensyaratkan adanya unsur waktu, tahun dan bulan, juga harus berdasar dan mengacu kepada penghitungan kalender Hijriyah, bukan kalender-kalender yang lain. Seperti misalnya dalam hal penentuan masa iddah seorang istri yang dicerai atau ditinggal wafat oleh suaminya, standar usia akil balig bagi seorang remaja, yang menentukan apakah ia telah mukallaf atau belum, batasan umur hewan yang sah untuk dijadikan sebagai qurban atau aqiqah, dan lain lain.<br />
Jadi sekali lagi intinya bahwa, kalender Hijriyah adalah kalender Islam. Ia terkait dengan ajaran agama ini dari berbagai sisinya, dengan keterkaitan yang sangat erat dan kuat. Kita membutuhkannya dalam penunaian ibadah dan pelaksanaan syariah. Maka, kepada seluruh ummat muslim dimanapun berada, mari kita buktikan jati diri keislaman kita, dan tunjukkan identitas keimanan kita, antara lain dengan bersemangat dan berbangga hati dalam menggunakan kalender Hijriyah. Karena jika bukan kita Ummat beriman yang bangga dengannya, lalu siapa lagi?</p>
<p>Adapun khusus tentang bulan Muharram yang merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriyah, maka sekadar mengingatkan bahwa, ia adalah salah satu bulan suci, mulia dan istimewa. Dimana ibadah puasa padanya adalah sebaik-baik puasa sunnah. Oleh itu, mari kita hidupkan sunnah Rasul tercinta, dengan berpuasa sunnah di bulan mulia ini. Dan perlu diingat bahwa, ada dua macam puasa sunnah Muharram. Pertama, puasa sunnah yang bersifat umum, dan yang bisa dilakukan kapanpun dan pada tanggal berapapun selama bulan Muharram ini. Dimana fadhilah dan keutamaannya secara umum lebih besar dibandingkan dengan puasa sunnah pada bulan-bulan yang lain. Kedua, puasa sunnah di bulan Muharram yang bersifat khusus, yakni pada hari Tasu&#8217;a tanggal 9 Muharram yang tahun ini bertepatan hari Jum’at 23 Nopember 2012 besok, dan hari &#8216;Asyura&#8217; tanggal 10 Muharram yang jatuh pada hari Sabtu 24 Nopember 2012.</p>
<p>Baginda Sayyidina Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Sebaik-baik puasa sesudah (puasa fardhu) di bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah Muharram. Dan sebaik-baik shalat setelah yang fardhu (lima waktu) adalah shalat malam (HR. Muslim). Dan saat ditanya tentang fadhilah puasa &#8216;Asyura, Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Ia bisa menghapus dosa satu tahun yang telah lalu (HR.Muslim). Sementara itu sahabat Ibnu ‘Abbas ra. berkata: Aku tidak melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menunggu-nunggu waktu puasa suatu hari yang Beliau utamakan atas yang lain kecuai hari ini, yakni hari ‘Asyura’ (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Di dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Jika masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan puasa pada hari Tasu’a, yakni tanggal 9 (Muharram) (HR.Muslim). Lalu diriwayatkan Ibnu ‘Abbas ra. berkata lagi bahwa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Berpuasalah pada hari ‘Asyura’, dan bedakan dengan (puasa) kaum Yahudi. Maka puasalah (disamping hari ‘Asyura’) sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Al-Baihaqi). Namun para ulama melemahkan hadits terakhir ini. Meskipun ada juga ulama yang tetap memakainya, seperti misalnya Imam Ibnul Qayyim rahimahullah. Sehingga karenanya beliau membagi puasa sunnah khusus di bulan Muharram menjadi tiga level. Dan level pertamanya adalah dengan berpuasa selama tiga hari, yakni hari Tasu’a tanggal 9, hari ‘Asyura’ tanggal 10 dan tanggal 11 Muharram. Level kedua adalah yang berpuasa dua hari, yaitu hari Tasu’a dan ‘Asyura’, atau hari ‘Asyura’ dan tanggal 11 Muharram. Adapun level ketiga, adalah dengan berpuasa sehari saja, yakni pada hari ‘Asyura’ tanggal 10 Muharram, yang seperti telah disebutkan dimuka akan jatuh pada hari Sabtu tanggal 24 Nopember 2012.</p>
<p>Akhirnya, semoga kita semua termasuk ummat Baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa bersemangat dalam mengikuti dan menghidupkan sunnah-sunnah Beliau, antara lain dengan berpuasa sunnah di bulan Muharram ini. Dan juga, semoga tahun baru Hijriyah 1434 ini memotivasi kita semua dalam upaya menghijrahkan diri dan kehidupan menuju pribadi dan generasi yang benar-benar lebih baik, lebih mulia dan lebih bermartabat! Aamiin!</p>
<p>Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA<br />
Untuk mendapat cerita dan tausiah-tausiah  lainya. silahkan gabung ke: <a title="Fans Page" href="http://goo.gl/oKKB5" target="_blank"><strong>Ustadz</strong> <strong>Ahmad Mudzoffar Jufri </strong></a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/11/kalender-hijriyah-dan-identitas-ummat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SAVE GAZA</title>
		<link>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/11/save-gaza/</link>
		<comments>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/11/save-gaza/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Nov 2012 09:14:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fikroh]]></category>
		<category><![CDATA[featured]]></category>
		<category><![CDATA[free gaza]]></category>
		<category><![CDATA[palestina]]></category>
		<category><![CDATA[save gaza]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://inspirasiislami.com/?p=2161</guid>
		<description><![CDATA[Masjid Al-Aqsha adalah kiblat pertama Ummat Islam, sekaligus masjid termulia ketiga sesudah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dimana shalat sekali di dalamnya dinilai lebih baik, lebih afdhal dan lebih besar pahalanya daripada 500 kali shalat di masjid lain. Sedangkan Palestina adalah tanah kelahiran para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam. Namun keduanya kini berada dibawah penjajahan, penguasaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2162" class="wp-caption alignright" style="width: 250px"><a href="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/11/FreeGaza.png"><img class="size-medium wp-image-2162 " title="FreeGaza" src="http://inspirasiislami.com/wp-content/uploads/2012/11/FreeGaza-300x300.png" alt="" width="240" height="240" /></a><p class="wp-caption-text">Ilustrasi dari Inet</p></div>
<p style="text-align: justify;">Masjid Al-Aqsha adalah kiblat pertama Ummat Islam, sekaligus masjid termulia ketiga sesudah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, dimana shalat sekali di dalamnya dinilai lebih baik, lebih afdhal dan lebih besar pahalanya daripada 500 kali shalat di masjid lain. Sedangkan Palestina adalah tanah kelahiran para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam.</p>
<p>Namun keduanya kini berada dibawah penjajahan,</p>
<div style="text-align: justify;">penguasaan dan cengkeraman tangan-tangan kotor kaum Yahudi Zionis Israel. Dan tugas membebaskan keduanya adalah merupakan salah satu kewajiban besar di pundak seluruh muslimin di dunia.</p>
<p>Hanya saja yang secara riil berjuang dan berhadapan langsung dengan kaum Zionis penjajah itu selama ini, mewakili ummat Islam di muka bumi semuanya, adalah saudara-saudara kita bangsa Palestina, dimana perjuangan dan jihad mereka sekarang ini khususnya tengah terpusat di kota Gaza yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan dan kantor Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniya.</p>
<p>Nah, kota mujahidin Palestina, Gaza, yang tak lain juga merupakan tanah kelahiran Imam Syafi’i rahimahullah yang sangat kita agungkan dan ikuti madzhabnya, sudah sepekan ini menjadi sasaran serangan biadab kaum zionis yahudi Israel. Dan menurut up date info terkini didapat fakta dan data bahwa, keseluruhan korban kebiadaban israel sampai hari ke-7 agresi militer pagi ini, Selasa 6 Muharram 1434 H. / 20 Nopember 2012, adalah : 108 mati syahid dan 854 luka-luka, yang mayoritasnya terdiri dari kaum ibu, anak-anak, para orang tua dan lain-lain. Disamping hancurnya rumah-rumah, gedung-gedung, kantor-kantor, dan berbagai fasilitas pribadi khusus dan umum. Termasuk gedung kantor PM Palestina yang telah rata dengan tanah oleh serangan pada hari-hari pertama, dan yang terjadi hanya berselang sehari saja setelah menjadi tempat pertemuan antara PM Palestina Ismail Haneya dan PM Mesir Hisyam Qindil.</p>
<p>Maka, disamping munajat doa, aksi solidaritas, dan berbagai bentuk keberpihakan yang lain, mari kita turut sedikit meringankan sebagian derita mereka dan mendukung perjuangan serta jihad suci mereka dengan menyisihkan untuk mereka sebagian rezeki yang Allah titipkan kepada kita. Tentu saja melalui pihak-pihak yang amanah dan terpercaya. Semoga Allah membalas dengan pahala yang melimpah dan rezeki yang bertambah nan barakah. Aamiin!</p>
<p>Oleh:Ustadz Ahmad Mudzoffar Jufri, MA<br />
Untuk mendapat cerita dan tausiah-tausiah  lainya. silahkan gabung ke: <a title="Fans Page" href="http://goo.gl/oKKB5" target="_blank"><strong>Ustadz</strong> <strong>Ahmad Mudzoffar Jufri </strong></a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://inspirasiislami.com/index.php/2012/11/save-gaza/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
