Abu Dzar al-Ghifari, Sahabat Setia Nabi yang Menjalani Kehidupan Zuhud

zuhud

Sharing is caring!

Nabi Muhammad SAW memang dikelilingi oleh para sahabat yang memiliki akhlak mulia. Mereka mampu meneladani setiap pedoman hidup yang dianut Rasulullah SAW selama hidup bersama. Dibandingkan urusan dunia, para sahabat ini juga lebih mencintai Islam dan rasa keimanannya. 

Salah satu dari sahabat Nabi Muhammad yang patut dijadikan teladan adalah Jundub bin Junadah bin Sakan atau yang dikenal dengan nama Abu Dzar al-Ghifari. Di antara para sahabat yang mulia, sosok ini dikenal sebagai seorang perampok sebelum masuk Islam. Maklum saja, karena beliau lahir dan tumbuh besar di lingkungan dimana orang-orang merampok untuk mencari penghidupan.

Meskipun demikian, nyatanya kehidupan masa kecil hingga remaja Abu Dzar al-Ghifari ini cenderung ke arah kebenaran. Ia tidak pernah menyukai praktik ritual penyembahan berhala dan bahkan sangat membenci kegiatan bangsa Arab pada masa tersebut sebelum Islam masuk. 

Begitu mendengar kabar kemunculan seorang Nabi yang mengajarkan kebenaran di Mekah, Abu Dzar al-Ghifari langsung menuju kota untuk bertemu dengan Rasulullah SAW.  Seketika ia langsung menyatakan diri sebagai seorang muslim sekembalinya dari pertemuan dengan Rasulullah SAW di Mekah tersebut.

Abu Dzar al-Ghifari termasuk orang yang revolusioner dan radikal. Di manapun ia berada, lelaki ini akan dengan lantang menentang kebatilan dengan tabiat dan wataknya tersebut. Seperti ketika berhadapan dengan para pemuja berhala, kebatilan yang sangat dibenci oleh sahabat Nabi Muhammad SAW yang masuk Islam di masa-masa awal. Ketika menuju Haram, Abu Dzar al-Ghifari pernah disiksa dan dipukul orang-orang musyrik sebab menyerukan syahadat dengan suara lantang. 

Abu Dzar al-Ghifari, Sahabat Nabi yang Setia

Semasa hidupnya, Abu Dzar al-Ghifari yang bernama asli Jundub sangat setia mendampingi Nabi Muhamad SAW dalam perjalanan menyebarkan agama Islam di Mekah dan Madinah bersama para sahabat lain. Selain disebut sebagai sosok yang alim, Abu Dzar al-Ghifari juga diketahui menjalani kehidupan zuhud sebelum beliau wafat. Ia tinggal di Rabadzah, sebuah kampung kecil selama masa tuanya. Hanya istrinya lah yang mendampingi Abu Dzar al-Ghifari menjelang ajal menjemput sambil menangis tersedu-sedu. 

Sebelum wafat, Abu Dzar al-Ghifari pernah bertanya kepada istrinya:

“Apa yang kamu tangisi, padahal maut itu pasti datang?”

Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh sang istri dengan kalimat:

“Anda akan meninggal, tetapi kita tak punya sehelai kain pun untuk kafanmu. “

Abu Dzar al-Ghifari hanya tersenyum ketika mendengar jawaban itu. Tidak lama kemudian, ia pun menghembuskan nafas terakhir.. 

Yang tidak diduga-duga adalah kedatangan serombongan Mukminin tidak lama setelah Jundub meninggal dunia. Rombongan ini dipimpin oleh Abdullah bin Mas’ud, salah satu sahabat setia Nabi Muhammad SAW yang kemudian melihat sesosok jenazah dalam kondisi cukup menyedihkan yang sudah terbujur kaku. Melihat kondisi Abu Dzar al-Ghifari tersebut, Abdullah bin Mas’ud tidak kuasa menahan air mata yang meleleh hebat. 

Ternyata, ia sangat mengenali sosok jenazah itu sambil berkata:

“Benarlah prediksi Rasulullah! Anda berjalan sebatang kara, mati sebatang kara, dan dibangkitkan sebatang kara!’”. Inilah akhir kehidupan sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikenal sebagai sosok yang hidup zuhud  bernama Abu Dzar al-Ghifari.

Kampanye Hidup Zuhud oleh Abu Dzar al-Ghifari 

hidup zuhud

Sepanjang hayatnya, Abu Dzar al-Ghifari adalah sahabat Nabi yang sering mengkampanyekan hidup zuhud atau melepaskan hati dari pengaruh dunia. Ia dikenal sebagai orang yang pertama kali akan menantang para pejabat yang hanya berpikiran untuk memupuk kekayaan pribadi dengan cara menyalahgunakan kekuasaan. 

Sikapnya yang rewel dan kritis pada saat itu sering kali membuat telinga para pejabat memerah. Tanpa tedeng aling-aling dan gentar terhadap kekuasaan, pernah pada suatu masa ia menanyakan harta kekayaan Gubernur Syiria terpilih yaitu Muawiyah. Wilayah Syiria ketika itu memang jauh dari Madinah dan sekaligus menjadi wilayah paling makmur. 

Sehingga banyak sekali para pejabat yang pada masa itu berlomba-lomba untuk menguasai tanah pertanian dan gedung-gedung di sana. Para pejabat ini kerap diingatkan oleh Abu Dzar al-Ghifari tentang hidup bergelimangan harta kekayaan sambil mengutip surah At-Taubah ayat 24-35 dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

“Sampaikan kepada para penumpuk harta akan setrika api neraka!”

Muawiyah yang mendengar nasihat dari Abu Dzar al-Ghifari tentu saja mulai merasa resah dan terancam dengan kehadiran sahabat Nabi Muhammad SAW tersebut. Ia pun kemudian meminta Abu Dzar al-Ghifari dipanggil pulang ke Madinah melalui surat yang disampaikan kepada Khalifah Utsman. 

Permintaan Muawiyah itu dikabulkan oleh Khalifah Utsman yang kemudian memanggil pulang Abu Dzar al-Ghifari ke Madinah yang akhirnya dipinggirkan di kota Nabi itu. 

Sekian mengenai kisah zuhud dari sahabat Nabi Muhammad SAW bernama  Abu Dzar al-Ghifari, yang semasa hidupnya lantang membela kebenaran melawan para pejabat yang senang memperkaya diri dari rakyatnya. Semoga menjadi inspirasi untuk Anda yang sedang menjalankan kehidupan sebagai umat muslim.

shares