Bahaya Berhutang Dalam Agama Islam

bahaya berhutang dalam Islam

Sharing is caring!

inspirasiislami.com – Agama Islam adalah agama mulia, agama ini sudah memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dimiliki manusia. Detailnya ajaran agama Islam sehingga detail-detail permasalahan kehidupan termasuk hutang piutang telah diatur sedemikian rupa, hal ini supaya manusia tidak terjebak dalam kesulitan hidup yang terjadi karena hutang.

Berkaitan dengan hutang, Islam menyebut hutang dengan istilah All-Qardh, istilah ini secara etimologi bisa diartikan dengan memotong. Namun disisi syar’i bisa diartikan lebih luas lagi yaitu memberikan sebagian harta yang dimiliki untuk mereka yang memang membutuhkan. Namun bukan berarti diberikan begitu saja, lebih dari itu yang diberi tersebut diberikan kewajiban untuk mengembalikannya nanti.

Oleh karena itu mengingat kebutuhan hidup yang selalu mengalami proses dinamika, maka penting seseorang bisa cermat dalam berhutang. Pasalnya, jika tidak dilakukan dengan tepat seseorang bisa terjebak dalam bahaya hutang tersebut.

Mengenal Hukum Hutang Piutang

Sebelum pada poin pembahasan bahaya berhutang, penting terlebih dahulu untuk mengenal bagaimana hukum dari berhutang ini sendiri. Mengutip salah satu ayat dalam Alquran, tepatnya dalam Q.S Al-Baqarah ayat 245 disebutkan bahwasannya siapa yang mau memberikan pinjaman berupa pinjaman yang baik maka Allah akan melipatgandakannya dengan kebaikan yang lebih banyak.

Disisi lain Allah juga akan menyempitkan serta melapangkan rejeki tergantung bagaimana kedua belah pihak melakukan hutang piutang.

Bagaimana Syarat Hutang Piutang sesuai Ajaran Islam?

Dalam Islam juga terdapat beberapa syarat terkait dengan hutang piutang itu sendiri. Syarat tersebut diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Memberikan pinjaman dari harta yang memang murni serta halal
  • Tidak diperbolehkan seorang pemberi hutang untuk terus mengungkit-ungkit dan juga menyakiti pihak yang penghutang.
  • Pihak peminjam memberikan pinjaman semata-mata untuk memperoleh ridho dari Allah.
  • Tidak ada keuntungan serta kelebihan dari harta yang dipinjamkan.

Baca Juga : Amalan yang Bisa Menghindarkan dari Siksa Kubur

Lalu Apa Saja Adab Hutang Piutang dalam Islam?

  1. Terdapat sebuah perjanjian dan ada saksi yang bisa dipercaya.
  2. Pihak yang memberikan pinjaman tidak memperoleh keuntungan dari uang yang dipinjamkan.
  3. Pihak yang meminjam harus memiliki kesadaran untuk segera melunasi semua hutang-hutangnya.
  4. Lakukan pinjaman kepada orang yang shaleh dan dihasilkan dari cari yang halal.
  5. Hanya melakukan pinjaman saat dalam keadaan terdesak.
  6. Tidak ada hukum jual beli dalam berhutang.
  7. Jika terlambat melunasi segera berikan informasi kepada pihak yang memberi pinjaman.
  8. Menggunakan harta yang dipinjam dengan cara yang baik.

Mengenal Bahaya Sikap Berhutang

Sampai saat ini hutang masih dikenal sebagai salah satu hal yang sensitif dalam hubungan antara sesama manusia. Sekalipun Islam memperbolehkan berhutang, tetapi tetap harus sesuai dengan syarat yang sudah dijabarkan sebelumnya. 

bahaya berhutang dalam Islam

Jika seseorang memiliki kebiasaan berhutang untuk hal-hal yang bersifat tidak darurat, maka bisa memberikan hal yang berbahaya kedepannya nanti. Berikut ini beberapa bahaya karena kebiasaan berhutang yang tidak dikendalikan.

  • Bisa membuat stress

Sudah bukan hal yang baru lagi jika banyak orang yang akhirnya stress karena kesulitan dalam menyikapi jumlah hutangnya. Ada yang sulit tidur, pikiran sudah fokus hingga nafsu makan menurun. Keberadaan hutang bisa membuat orang merasa sedih karena memikirkan bagaimana langkah melunasinya.

Terlebih ketika fisik dalam keadaan yang tertekan serta fisik yang semakin menurun maka tingkat stress akan terus meningkat. Namun Allah maha pengasih, dalam hal ini serahkan semuanya kepada Allah untuk jalan terbaiknya.

  • Membuat Akhlak Rusak

Seseorang yang memiliki kebiasaan berhutang bukanlah seseorang yang memiliki kebiasaan baik. Hal ini bisa disamakan dengan kebiasaan berbohong. Orang yang kesulitan membayar hutangnya bisa dengan mudah mendapatkan pengaruh iblis sehingga rela melakukan hal yang berbau maksiat hanya untuk melunasi hutang-hutangnya.

  • Dihukum seperti pencuri

Berkaitan dengan hal ini mengutip hadist yang diriwayatkan Ibnu Majah, yaitu seseorang yang memiliki hutang dan memiliki niat untuk tidak melunasinya maka saat bertemu dengan Allah di hari kiamat nanti ia memiliki status sebagai pencuri.

  • Tidak Disalatkan Jenazahnya

Pernah saat zaman Rasulullah, Rasul tidak mau menyalatkan janazah dikarenakan orang yang meninggal tersebut masih memiliki hutang namun belum dibayarkan dan tidak memiliki peninggalan sedikitpun untuk bisa melunasi hutangnya. Hingga ada seorang sahabat yang mau menanggungnya barulah Rasul mau menyalatkan jenazah tersebut.

  • Ditunda Masuk Surga 

Ada beberapa golongan yang ketika ruhnya terpisah dari jasadnya ia langsung masuk surga, tiga golongan tersebut diantaranya seseorang yang memang terbebs dari sikap sombong, seseorang yang terbebas dari sikap khianat serta  seseorang yang tidak memiliki hutang.

  • Pahalanya Diganti Hutangnya

Hal ini sesuai dengan riwayat dari Ibnu Majah dimana jika seseorang meninggal dan masih memiliki hutang bahkan satu dirham saja sekalipun maka pahalanya akan digunakan untuk melunasi hutangnya tersebut. Ini dikarenakan di akhirat nantinya tidak ada dirham dan dinar.