Dana Zakat, Infak, dan Sedekah Diinvestasikan, Bolehkah?

investasi

Sharing is caring!

inspirasiislami.com – Zakat, infak dan sedekah merupakan pilar dana umat Islam yang mempunyai jumlah dan potensi besar. Dana ini bersifat abadi karena merupakan perintah atau seruan dari Allah yang berkaitan dengan muamalah dengan sesama manusia. Untuk pengelolaannya, ada Lembaga khusus pemerintah seperti Badan Zakat, Infak dan Sedekah (ZIS) maupun lembaga-lembaga sosial yang memang mengkhususkan untuk mengelola dana ini untuk kepentingan kaum dhuafa seperti Rumah Zakat atau Dompet Dhuafa.

Mengingat jumlahnya yang besar, dana ini merupakan dana potensial untuk dikembangkan selagi belum disalurkan ke mustahik. Pengembangannya melalui jalur investasi. Namun, apakah hal ini dibolehkan syariat? Sebelum membahas hukum boleh tidaknya, mari pahami perbedaan ketiga dana umat Islam ini.

  1. Definisi

  • Zakat

Terminologi syari’ah menjelaskan mengenai zakat yaitu kewajiban atas sejumlah harta yang ditentukan jumlahnya dan dalam waktu tertentu. Dalil yang menyebutkan tentang zakat adalah:

“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”.(QS At Taubah:103)

zakat

  • Infak

Menurut terminology syariat, infak didefinisikan mengeluarkan sebagian harta atau membelanjakan harta. Sifatnya sangat umum dan bisa digunakan untuk apa saja.

“Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (QS. Al-Anfal : 60)

Di dalam infak, tidak dikenal nishab dan jangka waktunya. Dan infaq dapat dikeluarkan oleh setiap muslim, baik yang mampu di saat lapang maupun ketika mengalami kesempitan harta. Berikut dalil Al quran mengenai infak:

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS 3:134)

Di ayat yang lain, Allah memberikan gambaran penerima infak:

“Mereka bertanya tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yati, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan. Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS 2:215)

  • Sedekah

Secara umum, sedekah memiliki kemiripan dengan infak. Namun sedekah lebih spesifik yaitu membelanjakan harta/mengeluarkan dana yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah atau beramal shalih.

Dimensi sedekah sangat luas dan tidak berbentuk materi saja. Senyum adalah sedekah, memerintahkan kebaikan dan mencegah kejahatan juga bisa disebut sedekah. Bahkan membuang batu atau duri di jalan juga termasuk dalam sedekah.

“Senyummu pada wajah saudaramu adalah sedekah, amar makruf dan nahi munkar adalah sedekah, penunjuki orang yang tersesat adalah sedekah, matamu untuk menunjuki orang buta adalah sedekah, membuang batu, duri atau tulang dari jalanan adalah sedekah.” (HR. At-Tirmizy)

Baca Juga : Idul Fitri dan Pandemi

  1. Perbedaan Zakat, Infak dan Sedekah

Dari ketiga pengertia di atas, bisa ditarik kesimpulan yang membedakan satu sama lainnya:

  • Zakat dan infak berbentuk dana, sedangkan sedekah tidak selalu berbentuk dana. Bisa apa saja yang menyenangkan atau membantu orang lain
  • Tujuan zakat dan sedekah adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam bentuk taat pada perintahNya, sedangkan infak tidak selalu untuk kebaikan. Karena sifat infak adalah mengeluarkan uang untuk kebutuhan, bisa untuk apa saja.
  • Infak dan sedekah tidak ditetapkan baik jumlah, waktu maupun penerimanya. Bisa siapa saja dalam jumlah berapapun. Sedangkan zakat memiliki ketentuan yang tetap mengenai penerimanya, jumlah zakat yang harus dikeluarkan dan kapan harus disalurkan kepada mustahik.
  1. Hukum Pengelolaan Zakat, Infak dan Sedekah ke dalam Investasi

Dari ketiga perbedaan di atas, dana infak dan sedekah merupakan dana bebas yang bisa diinvestasikan dengan syarat-syarat tertentu. Lalu bagaimana jika zakat menjadi instrumen investasi? Dalam hal ini dana zakat akan diperlakukan sama seperti instrumen investasi lainnya yaitu reksa dana, obligasi dan deposito.

investasi

Bagaimana hukumnya? Para ulama yang sudah membahas tentang hukum menginvestasikan zakat baik yang membolehkan atau tidak, mempunyai dalil masing-masing, yaitu:

  • Dalil yang Membolehkan Investasi

    1. Kisah Nabi Muhammad SAW dan para Khulafaur Rasyidin yang menginvestasikan harta zakat dari onta, sapi dan kambing. Binatang ternak tersebut ditempatkan di tempat khusus yang dijaga, digembalakan, diperah dan dikembangbiakkan dengan menggunakan tenaga penggembala dalam merawatnya.
    2. Mengqiyaskan bolehnya investasi zakat oleh mustahik untuk menjaga keberlangsungan hidupnya, dengan pemerintah menginvestasikan zakat dengan tujuan memperbanyak harta zakat yang akan diberikan kepada mustahik dan menjaga kemampuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan mereka.
    3. Mengqiyaskan dengan bolehnya menginvestasikan harta anak yatim. Sehingga pemerintah bisa melakukan hal yang sama dengan anggapan harta zakat tidak lebih terhormat dari harta anak-anak yatim.
    4. Ulil amri dianggap memiliki wewenang maqasid syari’ah, yang di antaranya melakukan usaha memenuhi kebutuhan orang-orang lemah di masyarakat. Sehingga dianggap juga memiliki wewenang untuk mengembangkan sumber daya ekonomi yang tersedia dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut dan mewujudkan keadilan sosial. Untuk merealisasikannya, harta zakat yang ada perlu ditambah dengan jalan investasi. Ini dilakukan sebagai tuntutan kemaslahatan umum dan ulil amri bertindak berdasarkan tuntutan tersebut.
  • Dalil yang Tidak Membolehkan Investasi

    1. Berdasarkan firman Allah QS. At Taubah ayat 60, yang berbunyi: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, penguruspengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orangorang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Dari ayat di atas, dengan jelas Allah menyebutkan jumlah penerima zakat yang berjumlah delapan penerima. Jika ada penerima yang kesembilan, seperti menginvestasikan zakat, maka dianggap menyalahi ayat ini.
    2. Penginvestasian harta zakat pada proyek-proyek industri, perniagaan atau pertanian akan membuat terlambatnya penyampaian zakat kepada mustahik. Karena harus diputar terlebih dahulu untuk mendapatkan keuntungan dan hal ini bertentangan dengan konsep zakat yaitu menyegerakan pembayaran zakat.
    3. Sifat investasi mempunyai dua sisi yaitu untung dan rugi. Hal ini yang dihindari dari ulama yang melarang investasi zakat, karena dapat mengakibatkan kerugian atau habisnya harta zakat yang menjadi hak para mustahik.

Dari kedua pendapat di atas, yang terkuat dan digunakan di Indonesia adalah pendapat yang pertama. Bahwa zakat boleh diinvestasikan namun dengan syarat yang ketat seperti di bawah ini:

  1. Tidak bertentangan dengan hukum-hukum shāri’at
  2. Merealisasikan kepentingan para mustaḥiq
  3. Merealisasikan kepentingan umum

Dana infak dan sedekah memiliki kelonggaran waktu dan jumlah sehingga bisa dikelola dengan baik melalui penginvestasian yang tepat. Namun untuk zakat, harus diperhatikan syarat-syarat di atas agar fungsi dan peran zakat tidak dikalahkan oleh tujuan mendapatkan imbal hasil besar.

 

shares