Hukum Gadai dalam Islam yang Harus Dipelajari Agar Terhindar dari Riba

gadai

Sharing is caring!

Menggadaikan barang merupakan salah satu cara yang dipilih kebanyakan orang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya saat ini. Fenomena tersebut terjadi bukan tanpa sebab, faktor ekonomi yang tersendat ditambah lagi dengan inflasi yang terjadi terus menerus membuat sebagian besar orang lebih memilih cara tersebut karena mudah dilakukan. 

Tentunya hal ini juga sejalan dengan bermunculannya kantor pegadaian yang jika diamati secara seksama sudah berdiri hampir di sekitar tempat tinggal Anda. Dengan menawarkan masyarakat umum program peminjaman uang berupa penggadaian barang berharga dan program lain seperti pegadaian emas, arisan emas, nabung emas, dan lain sebagainya. Di Indonesia sendiri kegiatan tersebut sudah dilegalkan, artinya siapa saja yang ingin mendapat uang pinjaman dapat menggadaikan barang pada pihak pegadaian. 

Namun sebagai umat muslim, sudah tahukah Anda mengenai pandangan Islam terhadap hukum gadai? Sebelumnya, ketahui terlebih dahulu arti gadai dalam fiqih muamalah yang disebut dengan Rahn atau dalam bahasa arabnya disebut juga Ar-Rahn. Ar-Rahn memiliki arti penahanan atau penetapan atas suatu barang, dan barang tersebut dapat dijadikan sebagai pembayaran dengan hak. Sedangkan arti dari gadai yang diketahui masyarakat kita adalah suatu kegiatan dimana peminjam melakukan hutang dengan cara menjamin barang-barangnya. Dan apabila hutang tersebut tidak dapat dilunasi peminjam, maka pihak pinjaman berhak atas barang yang bernilai sebagian atau seharga harta yang dipinjamkan.  

Jadi, dapat disimpulkan bahwa barang yang digadaikan merupakan alat pembayaran atas hutang tersebut. Orang yang memberi hutang juga tidak boleh memanfaakan barang yang dijadikan jaminan, kecuali sudah jatuh tempo orang yang berhutang masih belum bisa melunasi hutangnya. Sebagai ganti hutangnya, barang tersebut dapat dijual pihak pemberi hutang kepada orang lain. 

Contohnya:

Bapak budi tidak mampu membayar biaya rawat anaknya di rumah sakit karena tidak memiliki uang. Maka ia pun mengajukan pinjaman di kantor pegadaian sebesar 5 juta dengan jaminan sepeda motor selama 3 bulan seharga 10 juta. Selama masa pinjaman, Bapak Budi harus membayar cicilan dengan tambahan bunga sebesar 50 ribu. Bapak budi juga akhirnya tidak dapat melunasi pinjaman selama 3 bulan tersebut dan berujung dengan penyitaan sepeda motor yang kemudian dijual seharga 7 juta oleh pihak pemberi hutang. 

Di atas merupakan contoh gadai barang yang diharamkan dalam hukum Islam. Mengapa demikian? Sebab selain memberikan bunga atas pinjaman, pemberi hutang juga menjual barang gadai untuk mendapatkan keuntungan. Menurut sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya berikut ini:

“Dari Ibrahim berkata, Rasul SAW bersabda: semua pinjaman yang menarik manfaat adalah riba.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Jadi, apakah Islam tidak memperbolehkan kegiatan gadai-menggadaikan barang? Tentu saja boleh, hukum pegadaian dalam Islam pada dasarnya tertulis dalam ayat 283 surah Al-Baqarah yang berbunyi:

“Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). Akan tetapi, jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah SWT tuhannya, dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyi kan persaksian.”

Mulai dari zaman Nabi Muhammad SAW hingga sekarang, kegiatan gadai menggadaikan barang juga sudah dilakukan. Hal ini juga atas dasar kesepakatan yang dilakukan para ulama terkait hukum gadai dalam Islam, dan tidak ada yang mengingkarinya. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim (nomor 2068 dan 1603), dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah bersabda dari Aisyah RA:

Nabi SAW pernah membeli makanan dari orang Yahudi secara tidak tunai (hutang), lalu beliau memberikan gadaian berupa baju besi

gadai

Menurut para ulama, Ar-Rahn atau gadai barang diperbolehkan dalam Islam apabila dalam perjalanan (keadaan Safar) dan tidak sedang dalam perjalanan (tidak Safar). Selain itu, rukun Ar-Rahn (gadai) menurut mayoritas ulama terbagi menjadi empat yaitu:

  • Al-Marhun Bihi (Hutang).
  • Al Marhun (barang yang digadaikan).
  • Rahin (yang menggadaikan barang) dan Murtahin (pemberi hutang), kedua pihak yang bertransaksi.
  • Shighah.

Dalam menggadai kan suatu barang, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak:

  • Ijab, qobul, dan harta yang digadaikan. Barang yang digadaikan juga harus sah dijual.
  • Penerima hasil gadai tidak boleh merugikan orang yang menggadai kan dan untuk orang yang menerimanya juga memiliki akal dan sudah aqil baligh.  
  • Sebelum hutang lunas, harta benda yang digadaikan menjadi hak penerima gadai. Barang tersebut juga bisa dijual apabila si pemilik yang menggadaikan barang tidak mampu melunasi hutang seluruhnya sampai batas waktu yang disepakati kedua belah pihak. 
  • Harta benda yang dijual diambil oleh pihak penerima gadai senilai harta yang dipinjamkan kepadanya, dan apabila ada sisa dari penjualan tersebut maka harus di kembalikan kepada pemilik barang. 

Demikian penjelasan tentang hukum gadai dalam Islam. Semoga informasi ini menjadi bekal utama para muslim yang ingin melakukan kegiatan gadai menggadai.

shares