Hukum Ibadah Shalat Jum’at

hukum ibadah sholat jumat

Sharing is caring!

inspirasiislami.com – Seorang muslim memahami ada satu kewajiban shalat selain shalat lima waktu yang wajib dikerjakan. Yaitu shalat Jumat. Kewajiban shalat Jumat yang waktunya berbarengan dengan shalat Zuhur, otomatis menggugurkan kewajiban shalat Zuhur. Dan shalat Jumat ini dikecualikan pada lima orang: budak yang dimiliki, wanita, anak kecil, orang sakit dan musafir. 

Surat Al Jumu’ah khusus membahas shalat Jumat:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah daningatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi Rezki”. (QS. Al Jumu’ah : 9-11)

khutbah sholat jumat

Dari ayat di atas, ada beberapa hal yang bisa dipetik untuk jadi pelajaran:

  1. Hukum shalat Jumat bagi setiap muslim adalah fardhu ‘ain. Maksudnya adalah shalat ini berlaku wajib bagi setiap muslim (laki-laki) seperti halnya hukum shalat bagi umat Islam. Syarat-syarat wajibnya pun mengikuti syarat wajib shalat pada umumnya.
  2. Dua khutbah dalam shalat Jumat menjadi salah satu yang disyariatkan. Perintah untuk menunaikan shalat Jumat juga termasuk untuk menyimak dua khutbah Jumat. Bahkan ada dalil yang mencela muslim yang enggan mendengarkannya.
  3. Adanya larangan melakukan jual beli manakala azan shalat Jumat sudah dikumandangkan. Bahkan bisa dikatakan haram dilakukan dan tidak sah. Hal ini disebabkan kegiatan jual beli yang asalnya adalah boleh, dilakukan dan menjadi sebab ditinggalkannya kewajiban shalat Jumat sehingga jual beli tersebut menjadi terlarang pada saat itu.
  4. Adanya larangan berbicara pada saat imam sudah memulai khutbahnya. 

Namun, bagaimana dengan orang yang sedang dalam perjalanan? Apakah dalil di atas juga berlaku bagi mereka? Seperti yang telah disebutkan di atas, musafir dikecualikan dari kewajiban melakukan shalat Jumat. Dan para ulama pun menyepakatinya dengan memberikan perincian berikut ini:

  1. Rasulullah tidak pernah melakukan shalat Jumat ketika sedang bersafar. Dan tidak ada satupun yang mengetahui beliau pernah melakukannya. Sehingga seorang musafir tidak mempunyai kewajiban melakukan shalat Jumat pada saat ia safar maupun ketika sedang di jalan. Poin ini menjelaskan musafir yang melakukan shalat Jumat sendiri atau bersama musafir lainnya. Karena ini akan menyalahi syarat sahnya shalat menurut pendapat empat mazhab.
  2. Jika musafir bisa melakukan shalat Jumat bersama-sama orang lain yang dikenai kewajiban Jumat (penduduk setempat), ada dua pendapat. Ada yang mewajibkan seperti halnya kewajiban Jumat pada penduduk setempat. Dan ada juga yang tidak mewajibkan jika musafir tersebut memiliki udzur seperti kelelahan dan butuh istirahat, sehingga ia boleh tidak melakukan shalat Jumat.

Dengan adanya penjelasan ini, maka setiap musafir bisa mengambil pendapat yang sesuai dengan kondisi dirinya. Jika dimungkinkan untuk shalat Jumat sebagaimana penduduk setempat, maka itu lebih baik dan menggugurkan kewajiban shalat Zuhur. Namun, jika pada waktu shalat Jumat, musafir baru tiba dan butuh istirahat (karena jetlag misalnya), maka tidak mengapat tidak melakukan shalat Jumat dan menggantinya dengan shalat Zuhur dan bisa menjamaknya dengan shalat Ashar. 

hukum ibadah sholat jumat

Baca Juga : Beberapa Anjuran Beribadah Selama Wabah COVID-19

Keutamaan shalat Jumat tentu tidak sebanding dengan keringanan-keringanan yang diberikan bagi mereka yang membutuhkan. Lalu, bagaimana jika ada muslim yang menggampangkan dan meninggalkan shalat Jumat tiga kali berturut-turut? Bagaimana ulama memandang kasus ini?

Para ulama bersepakat shalat Jumat wajib dilakukan bila tidak ada uzur. Sehingga dikhawatirkan akan terjerumus dalam dosa besar jika ia dengan sengaja meninggalkannya. Dan bagi mereka yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali berturut-turut, maka hatinya akan tertutupi dan termasuk orang yang lalai. Seperti yang disebutkan oleh Rasulullah dalam salah satu hadisnya. 

Dari Abu Hurairah dan Ibnu Umar R.A, keduanya mendengar Rasulullah berkata ketika beliau memegang tongkat di mimbarnya,

“Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat Jumat menghentikan perbuatannya. Atau jika tidak Allah akan menutup hati-hati mereka, kemudian mereka benar-benar akan tergolong ke dalam orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)

banyak berdoa ketika hari jumat

Hadis yang senada juga menyebutkan:

“Barangsiapa meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali karena lalai terhadap shalat tersebut, Allah akan tutupi hatinya.” (HR. Abu Daud, An Nasai dan Ahmad)

Dari dua hadist di atas, sudah dijelaskan dengan gamblang hukum meninggalkan shalat Jumat. Tidak lain karena Allah ingin memberikan rahmatNya kepada muslim di hari Jumat yang istimewa dengan wasilah shalat Jumat. Yaitu pengampunan dosa, penyempurnaan Islam dan tercukupinya nikmat, serta pahala yang besar. Dan setiap langkah seorang muslim berangkat shalat Jumat akan mendapatkan ganjaran puasa dan shalat setahun.

Lalu mengapa kita menyia-nyiakan taburan rahmat Allah yang tersimpan di dalam kewajiban shalat Jumat? Mari songsong setiap kenikmatan tersebut dengan suka cita sehingga Allah ridha dengan setiap amalan shalat Jumat yang kita lakukan.

shares