Hukum Pernikahan Beda Agama Menurut Islam

Hukum Pernikahan Beda Agama Menurut Islam

Menikah merupakan salah satu hal yang dalam Islam menjadi penyempurna ibadah seorang umat kepada Tuhan. Pernikahan dianggap bisa memberikan kebahagiaan kepada tiap pasangan yang memang mengharapkan ridho dari Allah. Namun, di Indonesia sendiri kerap kali terjadi pernikahan berbeda agama.

Padahal seperti yang diketahui bila negara ini memiliki aturan tersendiri perihal pernikahan. Dimana ditetapkannya pernikahan haruslah disesuaikan dengan peraturan dari agama masing-masing, apabila memang agama mengizinkan maka diperbolehkan. Apabila tidak, maka janganlah dilakukan.

Pernikahan beda agama apabila dilihat dari sisi Islam

Pernikahan merupakan sebuah fase kehidupan manusia yang nantinya akan dijalani oleh pasangan muda-mudi yang telah siap lahir dan batin. Masing-masing dari tiap individu, pastinya ingin memiliki pendamping hidup secara sah, baik dimata agama atau pun negara. 

Namun, belakangan ada banyak sekali pernikahan yang berbeda keyakinan. Bagaimana hukumnya bila dilihat berdasarkan sudut pandang Islam, serta menurut UU yang ada di Indonesia? Bolehkah atau tidak? Simak penjelasannya dibawah ini.

Hukum menikah dengan pasangan berbeda agama menurut ajaran Islam

Sebenarnya dalam agama Islam sendiri sudah dijelaskan dan terdapat dalil dalam ayat Al-Qur’an juga Hadist perihal menikah berbeda keyakinan. Contohnya pada Surat Al Baqarah ayat 221 yang berbunyi :

Dan janganlah kalian menikahi perempuan musyrik, sebelum perempuan itu beriman. Sesungguhnya perempuan budak yang menjadi mukmin jauh lebih baik dibandingkan wanita musyrik, sekalipun menarik hatimu. Kemudian janganlah engkau menikahkan para orang musyrik tersebut (dengan perempuan mukmin) sebelum perempuan itu beriman. 

Sesungguhnya mereka yang menjadi budak mukmin jauh lebih baik dibandingkan orang musyrik, sekalipun menarik hatimu. Karena mereka akan mengajakmu ke neraka, sedangkan Allah mengajakmu ke surga dengan ampunan juga izin-Nya. Lalu kemudian Allah telah menerangkan seluruh ayat-ayat-Nya kepada semua manusia agar mereka bisa mengambil pelajaran.

Dari ayat tersebut sudah dengan jelas dikatakan, jika dilarang bagi Anda (umat muslim) menikahi seorang musyrik. Dalam artian mereka yang berbeda keyakinan dengan Anda. Ini berlaku baik untuk pria serta wanita yang beragama Islam. 

Jadi, akan lebih baik untuk Anda yang saat ini masih berpacaran dan mempunyai pasangan yang beda keyakinan, berpikir ulang. Sebab mengutamakan perintah Allah SWT adalah hal paling utama.

Hukum Pernikahan Beda Agama Menurut Islam

Hukum menikah dengan pasangan beda agama dari sudut pandang ulama

Mayoritas ulama telah sepakat, jika hukum menikah bagi yang berbeda keyakinan adalah haram hukumnya, kecuali bagi ahli kitab (Nasrani dan Yahudi). Tetapi, pada masa sekarang, sangat sulit bagi kita dapat menemukan seorang ahli kitab yang masih memegang teguh semua ajaran dari Nabi Isa dan Nabi Musa.

Sehingga bisa ditarik kesimpulan, bila tidak mungkin bagi Anda untuk dapat melakukan janji suci pernikahan apabila pasangan berbeda keyakinan. Di Indonesia sendiri, ada beberapa organisasi keagamaan besar yang mempunyai fatwa juga pandangan akan pernikahan beda keyakinan. Namun, pada intinya baik MUI, Muhammadiyah atau pun NU memiliki satu suara, yakni mengharamkan pernikahan yang berbeda agama.

Karena mereka meyakini, hal tersebut lebih banyak mafsadatnya dibanding maslahatnya. Semua peraturan tersebut mengacu pada surat Al Baqarah ayat 221 mengenai pernikahan. Sebab pada ayat tersebut sudah sangat mewakili ajaran agama Islam mengenai pernikahan beda keyakinan.

Hukum menikah dengan pasangan beda agama secara UU di Indonesia

Aturan mengenai pernikahan di negara ini secara hukum telah tertulis dalam UU No. 1/ 1974 mengenai Perkawinan yang isinya “Perkawinan akan sah, jika dilakukan sesuai hukum agama dan kepercayaannya masing-masing.”

Selain itu, telah dijelaskan juga apabila dalam UU Perkawinan Pasal 8, menyebutkan jika perkawinan akan dilarang bila dalam aturan agama dan kepercayaan melarangnya serta dibarengi aturan lain yang berlaku. 

Pada UU Perkawinan juga disebutkan, Anda bisa memperoleh kesimpulan jika secara hukum pernikahan, saat melangsungkan prosesi ijab kabul haruslah sesuai dengan ajaran agama dari pihak yang akan menikah.

Pada administrasi perkawinan, di UU No. 24/ 2013 mengenai perubahan atas UU No. 23/ 2006 perihal Administrasi Kependudukan menjelaskan jika pernikahan tersebut berbeda keyakinan, maka akan diizinkan secara administrasi.

Namun, dengan beberapa syarat yang sesuai dan mengikuti aturan dari UU Perkawinan. Bisa juga dinyatakan sah di mata agama serta sudah terdaftar pada KUA. Tetapi perlu digaris bawahi, bila semua itu harus memenuhi beberapa persyaratan.

Jadi, walaupun pernikahan dengan keyakinan yang berbeda kerap menjadi perdebatan di dalam kehidupan umat beragama dan sebagai WNI. Keberagaman agama yang ada di Indonesia menimbulkan adanya interaksi antar umat, tidak bisa dipungkiri hal-hal seperti itulah yang akhirnya membuat peluang adanya pernikahan beda keyakinan atau agama.

Apabila Anda mengikuti peraturan yang diberlakukan di Indonesia, maka sebenarnya sulit bagi Anda yang memiliki pasangan berbeda keyakinan untuk bisa menikah di negara ini. Apalagi pada UU Perkawinan jelas dikatakan jika pernikahan akan dianggap sah/ resmi, bila memang sesuai dengan ajaran agama yang berlaku.