Idul Fitri Dan Pandemi

shalat ied di rumah

Sharing is caring!

inspirasiislami.com – Tiada hari raya tanpa puasa Ramadhan. Apapun yang terjadi Idul Fitri tetap dinanti. Demikian yang tersirat dari kaum muslim menyikapi Idul Fitri kali ini.  Wabah Corona yang menjadi penghalang aktifitas di bulan puasa tetap tidak mengurangi kegembiraan kaum muslim menyambut hari raya Idul Fitri. Setelah selama 30 hari menyesuaikan ritual Ramadhan dengan berbagai aturan Corona, maka tradisi Idul Fitri pun ikut menyesuaikan. Berikut ini beberapa hal yang berubah dan menyesuaikan dalam menyambut Idul Fitri di masa pandemi Corona ini:

  1. Ritual yang Hilang 

  • Mudik

Dengan adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pemerintah daerah melarang warganya untuk bepergian baik yang bentuknya bekerja atau mudik menjelang hari raya. Mudik sendiri merupakan tradisi tahunan yang selalu dilakukan pekerja urban. Dan tahun ini kegiatan mudik menjadi hal yang terlarang. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyebaran virus ke daerah lain yang belum terdeteksi ada virus.

ritual mudik yang hilang

Sehingga penyebaran virus bisa dilokalisir. Kegiatan mencegah mudik ini dilakukan dengan cara menghentikan aktivitas transportasi, membuat pos penjagaan di daerah yang biasa menjadi kantong-kantong pemudik hingga membuat syarat khusus yang harus dipenuhi oleh setiap pemudik sebelum berangkat dan Ketika sampai di tujuan mudik.

  • Pawai Obor

Di daerah-daerah tertentu, malam terakhir Ramadhan dimeriahkan dengan pawai obor yang dilakukan oleh anak-anak dengan berkeliling kampung sambil mengumandangkan tasbih, tahlil dan tahmid. Suasana yang khas yang menambah kegembiraan menyambut Idul Fitri semakin bertambah dengan adanya pawai obor ini. Namun di masa pandemi, demi menjaga anak-anak dari penularan virus, kegiatan ini juga dilarang oleh perangkat desa.

  • Shalat Ied di Lapangan

Idul Fitri dan idul adha identik dengan beramai-ramai melakukan shalat di lapangan. Tidak hanya orang dewasa, tetapi anak-anak dan manula juga dibawa ke lapangan untuk ikut mendengarkan khutbah shalat Idul Fitri. Semua orang khusyuk mendengarkan khutbah dan diakhiri dengan acara bersalam-salaman dengan orang di sebelah kiri dan kanan.

Suasana ini ditiadakan di hari Idul Fitri tahun 2020. Kegiatan berkumpul di luar rumah dengan jumlah besar justru membuat menyebarnya virus dalam skala banyak, sehingga pemerintah melarang untuk sementara waktu. Tentu semua ini bertujuan demi kesehatan masyarakat.

Baca Juga : Hikmah dan Manfaat Puasa Ramadhan

  • Keliling Kampung 

Biasanya setelah shalat Idul Fitri, warga saling berkeliling ke rumah-rumah tetangga untuk mengucapkan selamat Idul Fitri dan sekaligus saling bermaaf-maafan dengan bersalaman. Bertamu sejenak dan mencicipi hidangan tuan rumah yang diakhiri pemberian amplop untuk anak-anak. Tradisi ini untuk sementara waktu ditiadakan dan kegiatan menyapa salam Idul Fitri dilakukan via gadget.

  1. Ritual sebagai Bentuk Penyesuaian

  • Lebaran Virtual

Dengan larangan pertemuan secara fisik membuat aplikasi teknologi menjadi solusi dalam berkomunikasi. Ketika mudik dilarang, bepergian dihambat, maka pertemuan fisik diubah menjadi kangen-kangenan ala virtual. Di masa pandemi, aplikasi zoom memenuhi ekspektasi masyarakat untuk dapat saling menyapa via gadget. Dengan kemudahan akses dan tersedia menu gratis, masyarakat menyelenggarakan lebaran virtual di keluarga mereka. Walaupun sedikit merasakan kesedihan, namun rasa syukur dan gembira tetap ada karena masih dapat saling melihat dan menyapa via teknologi.

  • Imam Shalat Ied

Mungkin jika tanpa virus corona, seorang ayah tidak akan berkesempatan menjadi imam shalat Id bagi keluarganya. Dengan aturan minimal terdapat 4 orang jamaah, shalat ini juga harus disertai khutbah Id seperti biasa. Tentu ini akan jadi pengalaman sekali seumur hidup, karena belum tentu akan bisa dilakukan lagi di masa depan.

shalat ied di rumah

Selain itu, shalat Id bisa dilakukan seorang diri tanpa khutbah tentunya. Pengalaman melakukan shalat Id bukan di lapangan memang menyisakan pedih, karena shalat Id identik dengan lapangan. Namun, ini tidak akan mengurangi esensi shalat Id dan hikmah dari perayaan Idul Fitri.

  • Angpau via Transfer

Angpau menjadi bagian dari tradisi di hari raya. Ketika berkeliling kampung, anak-anak akan dengan sukacita mendatangi tiap rumah, selain untuk bersilaturahmi juga untuk mencicipi hidangan tuan rumah dan sebelum pulang akan dibekali amplop yang berisi uang. Di masa pandemi di mana sebagian masyarakat mengalami kekurangan hingga hilang pendapatan, tradisi ini ada yang menghilangkannya.

Namun bagi sebagian yang lain, mengganti amplop dengan bentuk transfer. Selain karena tidak dapat bertemu langsung, juga untuk mencegah penyebaran virus via media uang kertas. Sistem transfer menjadi cara efektif bagi anak-anak tersebut untuk tetap mendapatkan angpau. Namun sayangnya, bagi sebagian anak, angpau mereka akan masuk ke rekening orang tua.

Esensi Idul Fitri adalah kebahagiaan dan kegembiraan. Dan semuanya bersumber dari hati. Sehingga ketika ada banyak perubahan tradisi Idul Fitri terkait Corona, rasa bahagia tidak boleh berkurang sedikitpun. Dan kaum muslim mendapatkan pelajaran berharga dengan adanya Corona ini, sehingga menyesuaikan tradisi Idul Fitri dengan penuh kegembiraan.

 

shares