Kisah Bilal, si Muadzin Rasulullah

azan

Sharing is caring!

Sepertinya bila kita mendengar nama Bilal, pastinya sudah tidak asing lagi. Ya, karena ia adalah sahabat dari Rasulullah SAW, yang memiliki keteguhan hati sebagai sosok muslim sejati. Mengapa demikian? Karena ketika umat Islam hanya memiliki beberapa pengikut saja dan kekejaman yang sering sekali diterima oleh kaum Muslim, tiba-tiba datanglah seorang budak yang memiliki kulit hitam yang memiliki tekad kuat dan memberanikan diri untuk beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. 

Ia memiliki nama lengkap yaitu Bilal bin Rabah Al-Habasyi. Berasal dari negeri Habasyah, atau sekarang lebih dikenal dengan Ethiopia. Sehari-harinya ia lebih dikenal dengan sebutan Abu Abdilah. Selain itu, ternyata ia juga adalah seorang Muadzin dengan gelar Muadzin Rasul. Bilal lahir sekitar 43 tahun sebelum hijriah di daerah as-Sarah. Memiliki ciri tubuh yang khas, seperti warna kulit yang coklat, tinggi, kurus, rambutnya agak tebal dan memiliki pelipis yang tipis. 

Bilal memiliki seorang ibu bernama Umayyah bin Khalaf dari Bani Jumuh. Ibu nya merupakan hamba sahaya (budak), begitu pula dengan Bilal. Sampai akhirnya Bilal mendengar tentang Islam. Lalu, ia langsung bergegas menemui Rasulullah SAW dan mengikrarkan dirinya untuk masuk dalam agama Islam. Bilal menjadi salah satu sahabat Rasulullah yang bukan berasal dari Arab. 

Bilal Pernah Disiksa dengan Dijemur di Tengah Gurun Pasir 

Menurut Tokoh-tokoh besar Islam sepanjang sejarah karya Syekh Muhammad Mursi, menyatakan bahwa Umayyah bin Khalaf pernah menyiksa Bilal dengan menjemurnya di tengah panasnya gurun pasir yang telah mengalami suhu panas selama berhari-hari. Tidak hanya itu saja, perut Bilal juga diikat dengan batu besar, sementara lehernya juga diikat dengan tali. Lalu, Umayyah juga menyuruh anak-anak dari orang kafir untuk menyeret Bilal di antara perbukitan Makkah. 

Dan saat Bilal berada dalam siksaan tersebut, Bilal sedikitpun tidak pernah meminta untuk diberhentikan. Ia hanya memohon pertolongan kepada Allah SWT. Umayyah bin Khalaf juga tidak berhenti sampai di situ, ia terus memaksa anaknya untuk meninggal kan agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Tetapi ia tetap dengan pendirian teguh serta tekad yang kuat untuk tetap dijalan Allah SWT. 

Ia tidak pernah berhenti untuk mengucap “Ahad-ahad” dan ia juga menolak untuk mengucapkan kata-kata kufur atau kata-kata yang mengingkari Allah SWT. Lalu, Abu Bakar as-Siddiq memerdekakan Bilal. Umar bin Khatab pun berkata bahawa “Abu Bakar adalah seorang pemimpin kami dan dia telah memerdekakan seorang pemimpin kami”. 

Setelah kejadian tersebut, Bilal pun mulai untuk mengabdikan dirinya untuk Allah SWT dan Rasul-Nya. Bilal selalu mendampingi kemanapun Rasulullah SAW pergi, tidak pernah absen Bilal untuk terus di sisi Rasul. Oleh karena itu, para sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW sangat menghormati Bilal. Bahkan bahkan memuliakannya sama seperti memuliakan Rasulullah SAW. 

Adzan Pertama Bilal 

masjid

Adzan pertama Bilal terjadi saat Rasulullah SAW sedang berhijrah ke Madinah, seperti biasanya, Bilal pun senantiasa disamping beliau. Kebetulan sekali saat itu Masjid Nabawi selesai dibangun dan Rasulullah SAW mensyariatkan adzan. Akhirnya ditunjuklah Bilal untuk mengumandangkan Adzan karena ia memiliki suara yang sangat merdu. Dan untuk pertama kalinya Bilal pun akhirnya mengumandangkan adzan sebagai pertanda shalat lima waktu akan laksanakan. Sejak saat itulah, Bilal diberi gelar sebagai Muadzdzin ar-Rasul dan dalam sejarah Islam ia menjadi Muadzin pertama. 

Bilal pun menjadi muadzin di Madinah karena ia juga tinggal disana. Bilal memiliki kebiasaan setelah mengumandangkan adzan, ia akan berdiri di depan pintu rumah Rasulullah SAW dan berkata, “Hayya’ alashshalaati hayya alashshalaati” atau (Mari melaksana kan shalat, mari meraih keuntungan). Setelah itu saat Rasulullah SAW keluar dari rumahnya, maka Bilal akan langsung melantunkan iqamah sebagai tanda shalat berjamaah akan segera di mulai.

Ketika berhasil mengambil alih Kota Makkah, Rasulullah yang sedang berjalan di depan pasukannya bersama Bilal. Ketika memasuki Ka’Bah, beliau akan ditemani oleh tiga orang sahabatnya, yaitu Bilal bin Rabah, Usamah bin Zaid, dan Utsman bin Thalhah. Karena mereka semua merupakan orang terdekat dan juga orang kepercayaan Rasulullah SAW. 

Dan setelah itu, waktu shalat dzuhur telah tiba. Tidak disangka bahwa ada ribuan orang berkumpul di sekitar Rasulullah SAW, ada pula orang-orang kafir Quraisy yang baru masuk Islam saat itu pula ikut bergabung. Rasulullah SAW pun memanggil Bilal untuk naik ke atap Ka’Bah lalu mengumandangkan adzan di depan ribuan orang. Saat itu merupakan momen yang bersejarah bagi semua umat Islam. 

Tidak perlu menunggu lama, dengan senang hati Bilal pun bergegas untuk melaksana kan perintah dari Rasulullah SAW. Ia akhirnya mengumandangkan adzan dengan suara khas nya yang merdu. Hal tersebut membuat banyak orang-orang berkumpul untuk mendengarkan Bilal sedang mengumandangkan adzan. Dan peristiwa tersebut merupakan adzan pertama di Makkah. Saat itu, ribuan orang yang datang pun mengikuti kalimat adzan yang dikumandangkan oleh Bilal. Sungguh jadi momen menakjubkan sepanjang sejarah umat Islam.