Kisah Masyitah, Pelayan Firaun

masyitah

Sharing is caring!

Jika mengulas tentang perempuan-perempuan hebat pada masa Kerajaan Mesir Kuno, maka tidak boleh lupa mengingat kisah Masyitah, pelayan Firaun. Kisahnya sangatlah menginspirasi dalam keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Lalu, seperti apa kisah dari Masyitah dan bagaimana ia bisa sampai mendapatkan tempat mulia di sisi Allah SWT, mari simak ceritanya. 

Masyitah adalah Pelayan Istana Kerajaan Mesir 

Seperti yang sudah disebutkan, bahwa Masyitah beserta dengan keluarganya adalah pelayan istana. Tugas Masyitah adalah sebagai tukang sisir putri Firaun. Pengabdiannya kepada kerajaan Firaun ternyata tidak membuat Masyita mengakui bahwa rajanya adalah Tuhan. Di mana memang kala itu Firaun adalah raja kejam yang memaksa seluruh rakyat Mesir menyembahnya. 

Masyitah percaya kepada ajaran yang dibawa Nabi Musa, namun ia sendiri menutupinya. Hal ini sendiri dilakukannya agar terhindar dari hukuman kejam Firaun. Karena Firaun akan menyiksa dan membunuh siapapun yang tidak mengakui dirinya sebagai Tuhan. 

Masyitah Menghadapi Ujian 

Sampai pada suatu ketika, Masyitah akhirnya menghadapi ujian yang diberikan Allah SWT kepadanya. Kala itu, Masyitah sedang menyisir rambut putri Firaun dan tidak sengaja menjatuhkan sisir. Tanpa sadar, Masyitah menyebutkan asma Allah. Ia menyebut “Allah” secara lisan dan terdengar oleh putri Firaun. 

Putri Firaun pun bertanya, siapa Allah kepada Masyitah. Masyitah yang kala itu ketakutan pun hanya diam saja, apalagi putri Firaun berkata jika Allah adalah Tuhan, maka Masyitah harus siap untuk dihukum mati. Masyitah pun tetap bungkam, tapi putri Firaun terus mendesaknya dan bertanya kepada sang pelayan apakah Masyitah mempunyai Tuhan selain dari ayahnya, Raja Firaun. 

Masyitah sadar bahwa ini adalah ujian akan keimanannya yang harus diterima. Maka dengan berani, Masyitah mengatakan dengan tegas, “Allah adalah Tuhanku, Tuhan dari Ayahmu dan Tuhan seluruh alam”. 

Tanpa berpikir panjang, putri Firaun pergi untuk menemui sang ayah dan melaporkan tentang Masyitah.Sedangkan sang pelayan pergi untuk menemui keluarganya dan memberitahu untuk bersiap menerima hukuman dari Firaun. 

Firaun yang mendengar laporan dari putrinya pun sangat murka, lalu ia memanggil Masyitah dan seluruh keluarganya. Tanpa rasa gentar Masyitah menemui Firaun. 

Firaun bertanya kepada Masyitah, “Apakah kau telah menyembah sesuatu selain aku?” kala itu suara Firaun menggelegar marah dan membuat seisi istana ketakutan. 

Tapi, Masyitah dengan tak gentar kembali menjawab dengan tegas, “Ya, saya menyembah Allah. Allah adalah Tuhanku, Tuhanmu dan Tuhan segala sesuatu.” 

Mendengar jawaban tersebut, Firaun kembali murka dan memerintahkan pengawalnya untuk membawa seekor ular dan dihadapkannya ular tersebut kepada Masyitah. Namun, sekali lagi Masyitah tidak gentar. Melihat sikap Masyitah, Firaun semakin marah dan akhirnya memerintahkan Haman, tangan kanan Firaun, untuk melakukan eksekusi kepada Masyitah dan keluarganya. 

Masyitah Menghadapi Ujian Kedua 

Akhirnya Haman memerintahkan pengawal menangkap Masyitah dan seluruh keluarganya. Lalu, Haman memerintahkan kepada pengawal lain untuk membuat sebuah lubang besar. Haman telah memikirkan hukuman untuk keluarga Masyitah dengan cara merebusnya hidup-hidup. 

Waktu eksekusi pun sudah tiba, di mana kala itu rakyat Mesir diperintahkan berkumpul untuk menyaksikan hukuman dari Firaun kepada salah satu pelayannya. Masyitah kala itu menggendong seorang bayi bersama dengan suami serta keempat orang anaknya telah berada di tempat eksekusi. Ia dan keluarganya pun siap menerima hukuman yang akan diberikan. 

Di depan mereka sudah ada air mendidih. Namun, sang pelayan bersama keluarganya sama sekali tidak takut. Karena mereka lebih memilih memegang teguh keimanan mereka terhadap Allah SWT. 

Sebelum hukuman dijalankan, Haman kembali bertanya apakah masih akan beriman kepada Allah SWT dan menolak menyembah Firaun. Tapi sekali lagi, jawaban yang diberikan Masyitah bersama keluarganya selalu sama yaitu “Allah adalah Tuhanku, Tuhan bagi Firaun dan Tuhan dari seluruh alam. Kami akan terus beriman kepada Allah, walaupun harus terjun ke dalam kawah panas.”

Mendengar jawaban tersebut, akhirnya Haman pun membulatkan keputusannya. Suami Masyitah yang pertama dimasukan ke dalam air mendidih tersebut. Haman tertawa terbahak-bahak melihat hukuman yang dialami Masyithah dan keluarganya. Bahkan mengejek keimanan Masyitah. Tapi, Masyitah tetap tidak takut dan memegang teguh imannya. 

Satu persatu anak dari Masyitah pun dimasukan ke dalam air mendidih, di mana akkhirnya hanya tinggal Masyitah beserta bayi yang sedang digendongnya. Ia dan bayinya pun diseret untuk mendekati kubangan air panas mendidih. Di sinilah Masyitah mendapatkan ujian kedua akan keimanannya. 

Setan memberikan bisikan keraguan kepada hati Masyitah. Rasa kasihan serta sedih akan sang bayi yang masih tidak berdosa dan tidak bisa tumbuh dewasa menggerogoti Masyitah. Ia pun sempat menghentikan langkahnya. 

Haman yang melihatnya pun merasa senang dan berpikir bahwa Masyitah akan kembali lalu menuhankan Firaun. Tapi ternyata hal tersebut tidak terjadi. Dengan seizin Allah, sang buah hati pun berbicara kepada sang ibu, “Wahai Ibuku, jangan takut. Karena sesungguhnya surga sudah menanti kita.” Mendengar kata-kata tersebut, Masyitah pun mencium sang bayi lalu mereka masuk ke dalam air mendidih. 

Itulah kisah Masyitah, sang pelayan Firaun yang memegang iman kepada Allah hingga akhir. Di mana kisah ini tertuang dalam hadits Rasulullah tentang Isra Mi’raj. Kala itu, Rasulullah SAW sedang melakukan perjalanan Isra Mi’raj menuju Masjid Al-Aqsa. 

Rasulullah SAW melewati tempat yang sangat harum, seperti wangi kasturi. Lalu ia bertanya kepada Jibril, aroma wangi apakah ini. Jibril pun menjawab bahwa itu adalah aroma Masyitah, tukang sisir putri Firaun. Kemudian Jibril menceritakan kisah Masyitah kepada Rasulullah.