Masjid Djenne: Populer di Mali Karena Dibangun dari Lumpur

Masjid Djenne: Populer di Mali Karena Dibangun dari Lumpur

Masjid Djenne, merupakan masjid megah yang memiliki keunikannya sendiri. Masjid ini berada di Mali, Afrika Barat dan telah resmi menjadi warisan sejarah yang disahkan oleh UNESCO pada tahun 1988. Hal unik yang dimiliki oleh Masjid Djenne adalah bangunannya yang dibuat dari lumpur.

Masjid Djenne ini dibangun oleh Sultan Koi Kunbero pada tahun 1240 Masehi. Namun, jika Anda berkunjung saat ini yang bisa dilihat hanyalah masjid tiruan yang didirikan ulang semirip mungkin seperti bangunan yang asli.

Dimana hal itu terjadi ketika Perancis berhasil menduduki Mali tahun 1907 dan pihak kekaisaran memerintahkan untuk membangun kembali Masjid Djenne sebagaimana yang diperintahkan oleh pihak Katedral Notre Dame.

Fakta Masjid Djenne yang harus diketahui

Setiap bangunan yang mempunyai sejarah panjang, pastinya mempunyai keunikan atau ciri khas serta peraturannya sendiri-sendiri. Berikut dibawah ini adalah fakta mengenai Masjid Djenne yang wajib Anda semua ketahui, yaitu :

  • Masjid Djenne, dibangun kembali pada masa kekaisaran Perancis

Sebenarnya tidak bisa diketahui secara pasti, kapan bangunan Masjid Djenne ini dibangun untuk pertama kalinya. Namun, banyak yang berspekulasi, bila masjid tersebut didirikan pada abad ke-13. Tetapi menurut catatan, ketika ditemukan Masjid Djenne dalam keadaan rusak dan berfungsi sebagai pemakaman.

Kemudian, di tahun 1906 barulah pemerintah Prancis memberikan perintah untuk melakukan pemugaran pada masjid tersebut dan kembali difungsikan sebagaimana seharusnya tanpa menghilangkan gaya arsitektur aslinya. Pembangunan Masjid Djenne selesai pada 1907 yang diawasi langsung oleh Ismaila Traore.

  • Material utamanya adalah lumpur dan beberapa bahan tradisional juga alami

Hal unik dari Masjid Djenne adalah bangunannya yang dibuat menggunakan bahan tradisional dan alami. Dinding masjid terbuat dari bahan bernama ‘banco’ yang mana ini merupakan batu bata tradisional. Semennya sendiri menggunakan lumpur dan pasir, kemudian diplester supaya lebih halus. Untuk bagian dinding masjid, dihiasi dengan batang palem/ toron yang memiliki fungsi untuk menyangga bangunan.

  • Masjid Djenne, sengaja dibuat agar bisa tahan banjir

Berada di wilayah dengan luas 75 x 75 meter, pada bagian lantai sengaja dibuat tinggi hingga 3 meter. Tujuannya adalah supaya ketika sungai Bani mulai meluap, Masjid Djenne tidak tergenang oleh banjir. Lalu, terdapat pula 3 menara membentuk kerucut pada bangunan yang mengarah ke kiblat.

Kemudian, di bagian dalam berisi pilar-pilar yang jumlahnya cukup banyak hingga mirip hutan. Pada bagian yang digunakan beribadah, diterangi cahaya dari ventilasi-ventilasi kecil yang ada di dinding masjid.

Masjid Djenne: Populer di Mali Karena Dibangun dari Lumpur

  • Termasuk dalam warisan budaya UNESCO

Masjid Djenne merupakan salah satu situs bersejarah warisan budaya yang sudah disahkan oleh UNESCO sejak tahun 1988. Dengan gaya arsitekturnya yang unik, masjid ini dinobatkan sebagai bangunan berbahan dasar lumpur terbesar yang ada di dunia.

  • Setiap tahunnya akan selalu digelar perbaikan pada bagian Masjid Djenne

Seperti yang diketahui, Masjid Djenne ini dibangun menggunakan material dari alam. Salah satunya lumpur, sehingga membuat struktur bangunannya menjadi mudah keropos. Tetapi, untuk tetap mempertahankan bentuk bangunan dan membuatnya selalu kokoh.

Penduduk di Mali akan membuat sebuah acara unik setiap tahunnya, yaitu berlomba untuk memperbaiki Masjid Djenne. Nantinya akan dibuat kelompok-kelompok dari warga, dari tiap grup tersebut diberikan desain serta tugas pada setiap sisi masjid.

Selanjutnya mereka mulai berlomba untuk menambal dinding Masjid Djenne yang rusak menggunakan ‘banco’, ini adalah bahan dasar yang terdiri dari air dan tanah, kemudian ditambahkan dengan shea butter, bubuk baobah dan dedak padi.

Untuk lumpurnya sendiri, mereka akan mengambilnya dari sungai yang berada di dekat masjid. Dalam kompetisi ini, pesertanya tidak hanya para orang dewasa saja, tetapi banyak juga anak-anak. Biasa mereka akan diberikan tugas untuk membantu para orang dewasa.

Misalnya, anak perempuan membawa air yang berasal dari sungai untuk disiramkan pada ‘banco’ dan anak lelaki yang mengangkut banco sampai ke depan masjid. Bagi kelompok yang memenangkan kompetisi dengan menyelesaikan tugas bagiannya, maka berhak memperoleh hadiah. 

  • Umat non-muslim dilarang masuk ke area Masjid Djenne 

Dahulu, Masjid Djenne ini dapat dikunjungi oleh seluruh umat beragama. Tetapi, sejak 1996 mereka merubah peraturannya dengan melarang umat beragama lain memasuki area masjid. Tentunya hal tersebut bukannya tanpa sebab, hingga akhirnya memberlakukan larangan bagi non-muslim.

Larangan tersebut dibuat, karena pernah ada salah satu majalah mode asal Perancis yang melakukan photoshoot di dalam Masjid Djenne dengan para model yang mengenakan pakaian seksi serta gaya berfoto dianggap mengotori nilai-nilai Islami. Karena itulah, hingga kini umat agama lain hanya bisa berfoto dengan masjid dari jarak jauh.

Nah, itulah sekilas mengenai Masjid Djenne yang berada di Afrika Barat. Sebuah bangunan Masjid unik yang terbuat dari lumpur dan sudah berdiri sejak abad ke-13, kemudian dibangun ulang oleh kekaisaran Perancis tahun 1907.